Minggu, 20 Desember 2009

Surat dari Tgk.Anwar Tanoh Abee

Assalamualaikum wr wb.

T.A. Sakti yang saya hormati dan sangat saya kagumi karya2 dan tulisan2nya (meskipun baru saya baca sebatas/melalui website ini).

TOKE HIEKAYAT ACEH YANG GAGAL / SUDAH MATI ?
Hari ini saya merasa seperti kejatuhan durian runtuh, seperti musaffir haus ditengah padang pasir, lalu kecemplung kedalam oase/wadi yang airnya jernih,sejuk, berlimpah, lalu saya kelelep (bhuek) didalamnya.

Betapa tidak ! 30 lebih judul Hikayat yang telah droen alih aksarakan, sebagian besar diantaranya adalah yang sedang sangat saya cari2 dan belum pernah ketemu hingga saat ini, antara lain Hikayat Meudeuhak, Abu Nawaih, Tajus Salatin, beberapa judul nadlam dan beberapa judul tambeh, termasuklah Hikayat (Iskandar) Zulkarnaen dan Hihayat Ruhee.

Saya bukan kolektor, bukan pengamat, bukan pula ahli sejarah atau sastra Aceh, namun hanya sekedar sebagai penyuka atau penikmatnya saja, itupun hanya sebatas peminat gasien,hana sen ngon bloe buku, namun sangat kepingin untuk memilikinya. Sekarang dirumah saya ada sekitar 200 judul buku tentang sejarah dan sastra Aceh, 20an judul diantaranya berupaya Hikayat Aceh klassik dan modern.

Membaca tulisan droen tentang TOKE HIKAYAT ACEH YANG GAGAL, hati saya ikut merasa pilu, pedih, lirih dan miris, karena : itulah faktanya, inilah zamannya, dimana 3 orang anak saya sendiri yang masih mau dan bangga mencantumkan Tjut dan Teuku didepan namanya, namun tak seorangpun dari yang paham bahasa Aceh, dan tidak tumbuh sedikitpun ke inginan mereka untuk belajar sekedar memahaminya, apalagi untuk bertutur, konon pula untuk menikmati sastranya, hikayatnya, tulisan jawoe Acehnya, rasa2nya memang sudah terlalu jauh panggang dari api. Itu terjadi pada ke 3 anak saya, yang lahir, besar, bersekolah dan berkarya/menjalani hidup sepenuhnya di Jakarta, dan dilahirkan dari rahim ibu yang tidak berbahasa Aceh. Yang lebih merisaukan lagi di Aceh sendiri cukup banyak generasi muda yang sudah enggan memakai basa endatu nya. Anak2 dari Sibreh, Indrapuri, Seulimeuem ke Banda Aceh 2-3 bulan untuk bersekolah, pulang2 sudah lupa basa Aceh. He 3x,

Jadi, inilah fakta, inilah kenyataan, inilah pil pahit yang kita telan, kita bukan sedang counting down from ten to zero, tapi sastra / bahasa Aceh saat ini suka tidak suka K.O, sudah dititik nadir, sudah Inna Lillahi, sudah Almarhum. Namun saya memohon, saya berseru dan saya sangat sangat sangat berharap, agar T.A.Sakti and the Gangs jangan berhenti, jangan menyerah dan jangan mutung. Tetaplah maju kedepan, tetaplah, berbuat, tetaplah berkarya, tentunya tanpa pamrih. Insya Allah sayapun sekarang sedang mengalih aksarakan beberapa Hikayat dari Arab Jawoe Aceh ke tulisan latin, antara lain tentang kisah hidup Panglima Nayan, Riwayat keturunan dari Keluarga Besar pendiri Zayah Tanoh Abee, al Fairusi al Bagdadi, juga sedang menyalin kekomputer beberapa Nadlam dan Hikayat Malem Dagang. Ayo, mari kita maju terus, berbuat terus bersama2.

RAJA SI UJUT :
Tertulis oleh droen : “No:29 HIKAYAT MALEM DAGANG : Menceritakan pelayaran Sulthan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja Si Ujut adalah lambang dari bangsa Portugis yang telah menjajah Malaka sejak tahun 1511 (163 halaman)”

Untuk pernyataan droen dalam tanda kutip/quoted unquoted diatas, ma’af kan dan izinkan saya untuk menyampaikan sebuah informasi atau bahkan pernyataan / statement yang agak berbeda dengan pemahaman yang selama ini droen dan banyak orang lain memahaminya selama ber tahun2, terutama para sejarahwan / peminat sejarah yang selama in memakai sumber dari yang saya hormati almarhum Prof Ali Hasymi sebagai bahan rujukan utamanya yang menganggap keberadaan Hikayat Raja Si Ujut itu adalah hanya KISAH FIKTIF SAJA / KARYA SASTRA BELAKA yang abstrak dan penuh perumpamaan dan pengibaratan saja, seperti yang diyakini atau yang diulas oleh (beu luah kubu) Bapak Prof Tgk Mohd Ali Hasymi tersebut, yaitu : RAJA SI UJUT DAN RAJA RADEN KAKAK BERADIK BENAR2 ADA, BENAR2 PERNAH HIDUP DI TANAH JOHOR DAN BENAR2 MEREKA BERDUA MENGAKHIRI HAYATNYA DI TANAH ACEH DAN KEDUA2NYA MEMPUNYAI PUSARA / KUBURAN DI ACEH BESAR. SANG ABANG, RAJA SI UJUT TERBUNUH/DIBUNUH DAN BERKUBUR DI LAMTEUBA SEDANGKAN RAJA RADEN,ADIKNYA, MENINGGAL KARENA USIA TUA SETELAH SEMPAT BRANAK CUCU DAN DIKUBURKAN DI LAM LAGANG (KOMPLEK PERKUBURAN RAJA REUBAH). KUBURANNYA, ANAK CUCUNYA SERTA HARTA BENDANYA SAMPAI SEKARANG MASIH ADA DIKENALI OLEH MASYARAKAT SECARA LUAS DI LAMLAGANG, LAMTEUBA, TERUTAMA DI TANOH ABEE, SEULIMEUM DAN BANDA ACEH.

T.A.Sakti yang terhormat,
Tulisan ini saya sampaikan dengan rendah hati, jauh dari maksud untuk mengkritik atau berpolemik pemahaman yang selama ini sudah terlanjur berkembang secara absurd dikalangan ilmuwan /pengamat sejarah kita, apalagi dengan niat untuk berbangga diri, semoga Allah menjauhkan saya dari sifat2 takabbur, apalagi untuk berbangga diri dan mengada ada. Saya hanya menyampaikan apa yang selama ini diyakini beratus-ratus tahun oleh Zuriat Raja Raden yang telah datang dari Johor ke Aceh pada tahun 1626 hingga saat ini, lebih kurang sebagai berikut :
RAJA SI UJUT adalah nama lain dari Sultan Alaiddin Ri’ayat Syah III Raja Muda Johor ke 5A berkedudukan di Istana Saluyut, Kotatinggi, Johor Lama,diseberang timur Sungai Johor. Beliau ditawan Sultan Iskandar Muda setelah berhasil menaklukkan negeri Johor pada tahun 1626. Beliau diboyong ke Aceh bersama dengan Eaja Raden adik tiri lain Bapa nya, Puteri Kamaliah (Putroe Phang), Pujangga / Bendahara Raja Johor Tun Sri Lanang dan sekitar 22000 serdadu dan rakyat Johor lainnya. Karena beliau dalam status sebagai tawanan perang tetap melawan dan tidak pernah mau tunduk, maka beliau dihukum bunuh (versi sedikit berbeda dikisahkan dalam Hikayat Malem Dagang). berkubur di Lamteuba.

RAJA RADEN adalah nama lain dari Sulthan Abdullah Ma’ayat Syah: Raja Muda Johor ke VB, berkedudukan di Istana Batusawar-Johor Lama, seberang Sungai Johor sebelah Barat. Berbeda dengan abang tirinya yang terus melawan dan tidak mau tunduk kepada Raja Aceh, Taja Raden lebih rasionil, koperatif, mau bekerja sama, malah menaruh rasa kagum dan hormat kepada Sulthan Iskandar Muda yang memang sangat tersohor akan keadilannya, kebijakannya dan keperkasaannya, maka akhirnya Raja Raden malah dinikahkan dengan Puteri Ratna Jauhari bergelar Putroe Bungong Seulipeh (Puteri Kembang Turi) adik kandung sang Sulthan, yang konon tidak begitu rupawan bila dibandingkan dengan Puteri Pahang yang tadinya merupakan tunangan Raja Raden yang akhirnya jatuh kepelukan Sulthan (ya, istilah gaulnya anak2 zaman kini kira2 seperti TUKAR GULING lah). Hal ini menyebabkan timbul amarah yang sangat besar dan menjadi jadi dari Raja Si Ujut yang juga sangat menyimpan hasrat dan ingin mere but Puteri Pahang dari tangan adiknya, Raja Raden. Karena Raja Raden tidak berhasil mengawini Puteri Pahang dan untuk Raja Si Ujut pun tidak, maka kemarahan Raja Si Ujut dilampiaskan dengan berbuat makar, membunuh, memperkosa dan membakar dari Bandar Atjeh sampai ke Ladong dan mengeluarkan sumpah serapah dan umpatan kepada adiknya, Raja Raden, yang bertukar Putroe Phang dengan Putroe Bungong Seulipeh dengan kata2 seperti yang terekam dalam Hikayat Malem Dagang : BUKON BUNGONG BUKON UROE – SIPLOH BAGOE GET MEURUWA.
Sepanjang perkawinan mereka yang tidak langgeng tersebut, mereka sempat melahirkan 2 orang putera, yang tua bernama Raja Bintang, hidup dikeraton Aceh bersama ayahwanya, sedangkan adiknya bernama Pahlawan Syah, merantau ke pantai Barat, ada dugaan di Lhok Kruet, atau d Daya / Lam No, atau di Teunom, ada juga dugaan di Trumon, bahkan ada keyakinan dari sebagian masyarakati keturunan Keluarga besar Uleebalang Nagor / Teuku Nagor Syah bersal dari Pahlawan Syah. Wallahu a’lam bissawab.

Yang jelas, hampir selutuh/sekitar 400an orang anggota keturunan ke 11/12/13/14 Raja Raden yang sekarang masih hidup di Aceh Besar, terutama di Tanoh Abee, Seulimeum, Lamteuba, Banda Aceh dan sekitarnya (Juga di Medah, Jakarta, Jabar) memegang / menyimpan Silsilah yang tidak terputus ditangan mereka, Sejak Raja Parameswara (Sulthan Mohammad Syah) Sebagai Raja Hindu sekaligus Sulthan Islam (pendiri) Kerajaan Malaka ke I (1424M).yang menurunkan zuriatnya 7 salinan Raja2 Melayu Malaka Islam berkedudukan di Melaka sampai tahun
1511, kemudian dilanjutkan 5 salinan Raja kelanjutan Kerajaan Malaka Islam berkedudukan / berhijrah ke Johor, sampai akhirnya Kerajaan Islam Malaka berkedudukan di Johor ditaklukkan oleh Raja Aceh, Sulthan Iskandar Muda pada sekitar 1626 M.

KETURUNAN RAJA RADEN TERAKHIR DI TANOH ABEE/SEULIMEUM :
ada sekitar 400an orang yang sudah terdata, antara lain :
1. Teuku Raden : Uleebalang Tanoh Abee, Zelfbestuur terakhir
2. Teuku Abdullah : Wedana Seulimeum
3. Maayor Jenderal Teuku Djohan ex Wagub dan Ketua Golkar Aceh
4. Teuku Ali Basyah _ ex Ketua Kadin Aceh Besar
5. Teuku Bustamam ex Kadis P&K Pidie dan Aceh Timur
6. Prof Teuku Mohd Juned ex Guru Besar Hukum Adat UNSYIAH
7. Kolonel Teuku Ubit ex Kapusdik Batalyon di Padang Tiji
8. DR Teuku Safir Petinggi / Staff Pengajar di IAIN Ar Raniri
9. Zainal Abidin (Yahcek) ex Pembatu Gubernur Wilayah Barat Selatan
10. Teuku Saifuddin : Sekda Banda Aceh saat ini
11. Teuku Novizal Aiyub : Dirut PAM Tirta Meutala
12. Teuku Darmawan : ex Ketua Bappeda, Kepala PU Kodya BNA
13. Teuku Abdul Hakim ex Pimpro pad Dis Transmigrasi Prop Aceh.
14 Raden Muda – Pengusaha di Banda Aceh
15 Teuku Ansari – Kontraltor di Banda Aceh
16 Kolonel Teuku Syahrul : INKOPAD Jakarta
17 Teuku Anwar Amir : penulis posting / komentar ini

Saya termasuk salah seorang yang menyimpan silsilah lengkap dari sejak PARAMESWARA / SULTHAN MUHAMMAD SYAH (1424M S/D 2009M).

Sekali lagi dengan segala kerendahan hati, kami mohon agar informasi ini dapat diperlakukan sebagai suatu tambahan masukan untuk memperkaya khazanah perpustakaan / kesejarahan saja, bukanlah sebagai api penyulut polemik yang tidak berujung. Apalagi 2-3 tahun menjelang akhir hayatnya, Guru Besar kita Bapak Prof Ali Hasymi (beu luah kubu, beu ampon dasya) setiap berjumpa dengan MayJend Teuku Djohan (beu luah kubu, beu ampon dasya) selalu menyuruh dan mengingatkan agar segera memperbaiki /membangun kuburan Raja Raden yang di Lam Lagang itu sebagaimana mestinya sesuai dengan kebesaran sejarah masa lalu beliau. Dengan kata lain, Insya Allah dan Alhamdulillah mudah2an dapat saya pahami, bahwa belakangan, sebagai sejarawan sejati beliau mungkin telah menemukan fakta dan bukti yang autentik sesuai dengan kaidah2 ilmu kesejarahan yang akhirnya membawa beliau kepada kesimpulan yang mana sesungguhnya Raja Raden dan Raja Si Ujud itu memang benar2 pernah wujud dan berkiprah dipanggung sejarah Melayu Nusantara ini, Wallahu A’lam bis sawab. Hanya Allah lah yang maha tahu.

Tangerang, 21 Juli 2009
Teuku Anwar Tanoh Abee

1 komentar:

  1. Saleum...

    beberapa nama tokoh Tanoh Abee dan Seulimeum di atas saya cukup familiar..

    Teuku Abdullah (Ayah Nek TA), Kanda dari Teuku Djohan, sekaligus Ayahanda dari Ampon Din dan Ampon Yub...

    BalasHapus

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.