Kamis, 17 Oktober 2013

Benda Benda Pusaka Kerajaan Aceh di Meuseum National (Nationalmusset) Denmark

Di antara barang yang sangat hebat itulah terdapat selembar Bendera Atjeh di antara tahun 1850 dan 1900, bendera itu terlihat bewarna merah dan dihias dengan bulan, bintang dan dua pedang. Bendera itu merupakan barang berarti politik yang mungkin berkaitan dengan perang Belanda (1873-1903).. [Foto/Dok/KMPD Dari National Museum Denmark]
 


Pada Selasa, 15 Oktober 2013 23:05, LSM Adas Institute <adas.institute1@gmail.com> menulis:
 
Atjeh adalah sebuah bangsa yang sudah maju sejak zaman-berzaman dahulu, ini bukan suatu isu atau propaganda murahan tapi ia bisa disaksikan oleh bukti-bukti sejarah, yang tersimpan bagus di museum-museum di Eropa.

KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark berusaha menelusuri kejayan masa lalu Atjeh. Hasil usaha KMPD dan ASF membuahkan hasil, museum Denmark misalnya telah mengantar seratusan gambar bukti sejarah zaman dulu kepada Ketua KMPD Eropa melalu perantara yang digunakannya.

Barang Atjeh zaman dahulu tersimpan di Musem Nasional Denmark (Nationalmusset). Di dalam gedung istana lama yang sangat besar itulah tersimpan seratusan barang Atjeh kuno sebagai salah satu bukti bersejarah.  

Tidak kurang 140 barang antik yang sangat indah berasal dari Aceh. “Koleksi barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, ahli antropologi atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh,” kata Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di koleksi etnografis, Museum Nasional di København, kepada Marie Bjørnager Jensen, salah seorang mahasiswa di sebuah Universitas di Denmark jurusan antropologi yang mengambil subjek tentang Atjeh.

Antara barang-barang tersebut adalah selendang dan perisai dari Atjeh itu disebut penjaga museum merupakan barang yang sangat berarti dan unik untuk negara Denmark yang diberikan kepada museum oleh perbendaharaan kerajaan Denmark.

Pisau perak merupakan barang yang paling kuno. Ia dibuat pada 1748. Ada juga sebuah tempat rokok, yang dulu diberikan kepada Raja Denmark sebagai hadiah. Namun, hasil penelusuran KMPD dan ASF yang juga di bantu Marie belum dapat mendeteksi hadiah dari siapa, raja atau saudagar.

”Sangat baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri,” kata Bente Wolff lagi.
 
Rokok Orang Atjeh zaman dulu dan bungkusnya, di Museum Kopenhagen Denmark [Foto/Dok/KMPD/Dari National Museum Denmark]  

Melihat barang kuno Aceh di Denmark, jadi kita bisa bayangkan kehidupan orang Aceh 80-200 tahun yang lalu. Selendang dan celana berbenang emas, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya. Ada tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, beberapa barang yang bisa menunjukkan indahnya rumah Aceh dulu. Kepentingan agama seperti kain suci yang terhias dengan desain Islam yang dibordir dengan benang perak atau berberapa batu kuburan juga terdapat di museum ini.

Di antara barang yang sangat hebat itulah terdapat selembar Bendera Atjeh yang diperkirakan digunakan di antara tahun 1850 dan 1900. Bendera itu terlihat bewarna merah dan dihias dengan bulan, bintang dan dua pedang. Bendera itu merupakan barang berarti politik yang mungkin berkaitan dengan perang Belanda (1873-1903). Di sini terlihat keadaan politik di Aceh dulu yaitu hubungan damai dengan dunia luar dan era globalisasi sudah di mulai sejak ratusan tahun yang lalu oleh orang Atjeh.

Dengan terdapatnya barang-barang Atjeh di museum-museum Eropa seperti di Denmark, maka KMPD Perwakilan Eropa dan ASF di Denmark meminta Pemerintah Atjeh dan pihak museum Atjeh untuk mengambil tidakan-tindakan lobi yang tinggi bagi membawa pulang barang Atjeh di luar negeri tersebut, walau hanya untuk sementara.
(Sumber: Waspada On Line)

Posting oleh LSM Adas Institute ke LSM Adas Institute pada 10/15/2013 11:05:00 PM

1 komentar:

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.