Rabu, 02 Oktober 2013

Geulayang Tunang : Tradisi permainan Layang Layang dari Aceh...

Aceh memiliki tradisi per­lombaan layang-layang yang dimainkan setiap musim panen tiba. Kekuatan layang-layang yang umumnya dimainkan para lelaki dewasa ini terletak pada rangkanya. Maka itu pembuatan rang­kanya dari bambu duri dan diperlukan keahlian khusus.
Geulayang tunang dalam bahasa Indonesia permainan layang-layang. Di Aceh permainan ini dilakukan usai panen raya dan disaat musim angin timur. Tetapi sekarang ini kompetisi geulayang tunang digelar saat per­ayaan hari-hari besar.
Di Kota Banda Aceh kompetisi ini diperlombakan pada saat memperin­gati HUT Republik Indonesia atau HUT Kota Banda Aceh yang diperingati se­tiap setahun sekali. Atau pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang digelar setiap lima tahun sekali.

Di provinsi paling barat Indonesia, Aceh, permainan ini sudah ada pada masa Sultan Iskandar Muda. Per­mainan layang-layang ini dimainkan para petani setelah panen, disela-sela waktu luang mereka. Permainan yang dimainkan kaum pria dewasa ini dengan cara mengadunya atau sering disebut adu geulayang.
Permainan yang dimainkan secara tim dengan jumlah orang 4-5 laki-laki ini biasanya si pemenang akan dihadiahkan seekor kambing atau sapi sebagai hadiah. Hewan tersebut kemudian disembelih dan dimasak untuk dimakan bersama-sama, setelah pertandingan digelar.
Penilaian dalam Perlombaan
Tajuddin mengatakan, saemakin besar ukuran layang-layang semakin sulit membuat dan memainkannya. Sehingga diperlukan keahlian dan kekompakkan dari tim dalam memain­kannya. Jika tidak layang-layang akan jatuh dan patah.

Dalam perlombaan geulayang tunang, biasanya memiliki syarat tertentu, misal peserta harus memiliki panjang tali 700-800 meter dengan ketebalan benang 30-40 centimeter. Geulayang tunang kemudian harus di­mainkan secara berkelompok. Dalam satu grup dimainkan 4-5 orang tanpa batas usia.
Sementera itu, dalam sebuah kompetisi biasanya kata Tajuddin, para juri akan menilai keuletan tim menai­kkan layang-layang, kemudian meng­gulung benang layang-layang hingga sepanjang 800 meter. Mem­buat layang-layang berdiri pada posisi tegak lurus. Setelah benang ditarik dengan hitun­gan menit yang telah ditentukan. Serta ketepatan waktu menurunkan layang-layang dan kekompakan tim.

Festival Geulayang Tunang juga di perlombakan di ajang PKA VI Banda Aceh (september 2013) dan pemenangnya adalah sebagai berikut :
Juara 1 : Aceh Singkil
Juara 2 : Bireuen
Juara 3 : Sabang
Juara Harapan 1 : Aceh Selatan
Juara Harapan 2 : Sabang
Juara Harapan 3 : Aceh Selatan.  

 
(TAYC)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.