Senin, 30 September 2013

Kabupaten Aceh Besar Juara Umum Pekan Kebudayaan Aceh ke-VI



Berikut Data Seluruh Pemenang Pekan Kebudayaan Ache ke VI yang diperoleh dari http://www.pka6.com/ situs resmi PKA VI di Banda Aceh.

Juara Umum Pekan Kebudayaan Aceh ke-VI :
Kabupaten Aceh Besar


Juara 1 : Aceh Besar, dengan nilai 480
Juara 2 : Aceh Utara, dengan nilai 440
Juara 3 : Banda Aceh, dengan nilai 420
Juara 4 : Aceh Selatan, dengan nilai 400
Juara 5 : Bireuen, dengan nilai 350
Juara 6 : Aceh Barat, dengan nilai 320

Anjungan Rumoh Aceh
Juara 1 : Aceh Utara
Juara 2 : Aceh Selatan
Juara 3 : Bireuen

Pawai Budaya - Karnaval Jalan kaki
Juara 1 : Banda Aceh
Juara 2 : Lhokseumawe
Juara 3 : Pidie
Juara Harapan 1 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 2 : Aceh Utara
Juara Harapan 3 : Langsa

Pawai Budaya - Karnaval Mobil Hias
Juara 1 : Sabang
Juara 2 : Aceh Selatan
Juara 3 : Banda Aceh
Juara Harapan 1 : Aceh Barat Daya
Juara Harapan 2 : Aceh Singkil
Juara Harapan 3 : Gayo Lues

Permainan Rakyat - Geunteut Trieng
Juara 1 : Aceh Selatan
Juara 2 : Aceh Simeulue
Juara 3 : Aceh Selatan
Juara Harapan 1 : Bireuen
Juara Harapan 2 : Nagan Raya
Juara Harapan 3 : Aceh Selatan

Permainan Rakyat - Meuen Galah
Juara 1 : Simeulue
Juara 2 : Langsa
Juara 3 : Bireuen
Juara Harapan 1 : Pidie Jaya
Juara Harapan 2 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 3 : Aceh Barat

Permainan Rakyat - Festival Geulayang Tunang
Juara 1 : Aceh Singkil
Juara 2 : Bireuen
Juara 3 : Sabang
Juara Harapan 1 : Aceh Selatan
Juara Harapan 2 : Sabang
Juara Harapan 3 : Aceh Selatan

Gebyar Seni - Festival Rebana

Juara 1 : Aceh Singkil
Juara 2 : Aceh Barat
Juara 3 : Pidie
Juara Harapan 1 : Langsa
Juara Harapan 2 : Banda Aceh
Juara Harapan 3 : Aceh Tamiang

Gebyar Seni - Teater Rakyat
Juara 1 : Aceh Besar
Juara 2 : Aceh Tenggara
Juara 3 : Aceh Singkil
Juara Harapan 1 : Aceh Barat Daya
Juara Harapan 2 : Lhokseumawe
Juara Harapan 3 : Sabang

Gebyar Seni - Rapa'i Geleng
Juara 1 : Aceh Barat Daya
Juara 2 : Aceh Barat
Juara 3 : Nagan Raya
Juara Harapan 1 : Banda Aceh
Juara Harapan 2 : Aceh Jaya
Juara Harapan 3 : Aceh Singkil

Gebyar Sebi - Tari Saman
Juara 1 : Gayo Lues
Juara 2 : Aceh Timur
Juara 3 : Aceh Tenggara
Juara Harapan 1 : Aceh Besar
Juara Harapan 2 : Banda Aceh
Juara Harapan 3 : Subulussalam

Gebyar Sebi - Tari Ranup Lampuan
Juara 1 : Lhokseumawe
Juara 2 : Aceh Timur
Juara 3 : Banda Aceh
Juara Harapan 1 : Pidie
Juara Harapan 2 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 3 : Aceh Barat

Suson Ranup
Juara 1 : Aceh Utara
Juara 2 : Aceh Besar
Juara 3 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 1 : Banda Aceh
Juara Harapan 2 : Aceh Barat
Juara Harapan 3 : Nagan Raya

Peragaan Busana Adat
Juara 1 : Aceh Besar
Juara 2 : Banda Aceh
Juara 3 : Aceh Barat
Juara Harapan 1 : Subulussalam
Juara Harapan 2 : Lhokseumawe
Juara Harapan 3 : Aceh Tamiang

Dalail Khairat
Juara 1 : Aceh Utara
Juara 2 : Aceh Besar
Juara 3 : Bireuen
Juara Harapan 1 : Banda Aceh
Juara Harapan 2 : Aceh timur
Juara Harapan 3 : Simeulue

Kaligrafi
Juara 1 : Aceh Utara
Juara 2 : Aceh Besar
Juara 3 : Subulussalam
Juara Harapan 1 : Aceh Barat
Juara Harapan 2 : Bireuen
Juara Harapan 3 : Nagan Raya

Seni Ukir/Pahat
Juara 1 : Aceh Besar
Juara 2 : Aceh Barat
Juara 3 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 1 : Banda Aceh
Juara Harapan 2 : Subulussalam
Juara Harapan 3 : Lhokseumawe

Seudati
Juara 1 : Bireuen
Juara 2 : Aceh Utara
Juara 3 : Aceh Timur
Juara Harapan 1 : Lhokseumawe
Juara Harapan 2 : Aceh Selatan
Juara Harapan 3 : Nagan Raya

Upacara Adat Perkawinan
Juara 1 : Aceh Barat
Juara 2 : Aceh Barat Daya
Juara 3 : Aceh Selatan
Juara Harapan 1 : Aceh Utara
Juara Harapan 2 : Gayo Lues
Juara Harapan 3 : Lhokseumawe

Zikir Maulid
Juara 1 : Aceh Besar
Juara 2 : Aceh Timur
Juara 3 : Aceh Selatan
Juara Harapan 1 : Pidie Jaya
Juara Harapan 2 : Lhokseumawe
Juara Harapan 3 : Banda Aceh

Paduan Suara
Juara 1 : Banda Aceh
Juara 2 : Lhokseumawe
Juara 3 : Aceh Utara
Juara Harapan 1 : Langsa
Juara Harapan 2 : Aceh Tamiang
Juara Harapan 3 : Sabang

# Seulamat dan seumoga jeut ta meurumpok lom peut thon u keu # 


Minggu, 29 September 2013

Liza Aulia dan Rabbani Wahed Bireuen meriahkan malam penutupan PKA



Liza Aulia. @Google
 
Penyanyi Aceh Liza Aulia  dan penampilan tarian Rabbani Waheed asal Bireuen tampil  memeriah malam penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VI di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Minggu malam, 29 September 2013.
Muncul dengan baju merah, bawahan yang berkilau, dan mahkota di kepala, Liza Aulia membuat histeris ribuan penonton yang hadir. Ia tampil dengan lagu andalan yang melambungkan namanya berjudul Kutidhing.
Begitu juga Rabbani Waheed. Tarian yang diciptakan ulama asal Samalanga ini berhasil menyedot perhatian penonton.
Selain Liza Aulia dan Rabbani Waheed, tampil pula sejumlah tarian lain. Sementara di depan mereka, para pejabat termasuk Gubernur Zaini Abdullah tampak menyimak penampilan mereka sambil sesekali bertepuk tangan.
Seluruh rangkaian malam penutupan PKA berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Saat berita ini diturunkan, penonton mulai membubarkan diri. Ada pula yang sedang berfoto bersama sebagai kenang-kenangan di atas panggung utama.

Sampai jumpa empat tahun lagi. (Sumber: http://www.atjehpost.com )
 
Penyanyi Aceh Liza Aulia   dan penampilan tarian Rabbani Waheed asal Bireuen tampil  memeriah malam penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VI di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Minggu malam, 29 September 2013.
Muncul dengan baju merah, bawahan yang berkilau, dan mahkota di kepala, Liza Aulia  membuat histeris ribuan penonton yang hadir. Ia tampil dengan lagu andalan yang melambungkan namanya berjudul Kutidhing.
Begitu juga Rabbani Waheed. Tarian yang diciptakan ulama asal Samalanga ini berhasil menyedot perhatian penonton.
Selain Liza Aulia dan Rabbani Waheed, tampil pula sejumlah tarian lain. Sementara di depan mereka, para pejabat termasuk Gubernur Zaini Abdullah tampak menyimak penampilan mereka sambil sesekali bertepuk tangan.
Seluruh rangkaian malam penutupan PKA berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Saat berita ini diturunkan, penonton mulai membubarkan diri. Ada pula yang sedang berfoto bersama sebagai kenang-kenangan di atas panggung utama.

- See more at: http://atjehpost.com/nanggroe_read/2013/09/29/67573/36/13/Liza-Aulia-dan-Rabbani-Wahed-Bireuen-meriahkan-malam-penutupan-PKA#sthash.Pyf9wbup.dpuf
Penyanyi Aceh Liza Aulia   dan penampilan tarian Rabbani Waheed asal Bireuen tampil  memeriah malam penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VI di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Minggu malam, 29 September 2013.
Muncul dengan baju merah, bawahan yang berkilau, dan mahkota di kepala, Liza Aulia  membuat histeris ribuan penonton yang hadir. Ia tampil dengan lagu andalan yang melambungkan namanya berjudul Kutidhing.
Begitu juga Rabbani Waheed. Tarian yang diciptakan ulama asal Samalanga ini berhasil menyedot perhatian penonton.
Selain Liza Aulia dan Rabbani Waheed, tampil pula sejumlah tarian lain. Sementara di depan mereka, para pejabat termasuk Gubernur Zaini Abdullah tampak menyimak penampilan mereka sambil sesekali bertepuk tangan.
Seluruh rangkaian malam penutupan PKA berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Saat berita ini diturunkan, penonton mulai membubarkan diri. Ada pula yang sedang berfoto bersama sebagai kenang-kenangan di atas panggung utama.
Sampai jumpa empat tahun lagi.

- See more at: http://atjehpost.com/nanggroe_read/2013/09/29/67573/36/13/Liza-Aulia-dan-Rabbani-Wahed-Bireuen-meriahkan-malam-penutupan-PKA#sthash.Pyf9wbup.dpuf

Dompet Dhuafa: Lowongan kerja sebagai fasilitator pedamping peternak di Aceh Tamiang

Kabupaten Aceh Singkil





































Kabupaten Aceh Singkil adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten Aceh Singkil merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan dan sebagian wilayahnya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kabupaten ini juga terdiri dari dua wilayah, yakni daratan dan kepulauan. Kepulauan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Singkil adalah Kepulauan Banyak. Ibu kota Kabupaten Aceh Singkil terletak di Singkil.
Singkil sendiri berada di jalur barat Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh, Medan dan Sibolga. Namun demikian, jalurnya lebih bergunung-gunung dan perlu dilakukan banyak perbaikan akses jalan agar keterpencilan wilayah dapat diatasi. Diharapkan dalam waktu dekat Pelabuhan Singkil dapat dipergunakan sebagai pelabuhan transit untuk jalur barat Sumatera.

Pemerintahan

Bupati

Saat ini dipimpin Oleh yang baru saja Memenangkan Pemilukada pada bulan Mei 2012. yang bernama H.Safriadi Manik. atau lebih akrab di panggil OYON.

Kecamatan

  1. Danau Paris
  2. Gunung Meriah
  3. Kota Baharu
  4. Kuala Baru
  5. Pulau Banyak
  6. Pulau Banyak Barat
  7. Simpang Kanan
  8. Singkil
  9. Singkil Utara
  10. Singkohor
  11. Suro Baru

Penyegelan dan Pembakaran Gedung

Pada tanggal 1, 3, 5 dan 8 Mei 2012 Tim Monitoring yang dibentuk oleh pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melakukan penyegelan 20 rumah ibadah. Adapun daftar 20 rumah ibadah yang telah disegel tersebut terdiri dari 10 Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), 4 Gereja Katolik, 3 Gereja Misi Injili Indonesia (GMII), 1 Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI), 1 Gereja Jemaat Kristen Indonesia (JKI) dan 1 Rumah Ibadah Agama Lokal (Aliran Kepercayaan) Pambi.[1]
Pada hari Rabu, 18 Juli 2012 dini hari jemaat Gereja GKPPD Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil dikejutkan dengan asap hitam yang mengepul dari dalam gereja. Asap tersebut berasal dari api yang membakar beberapa kursi dan alat musik termasuk sound system, yang sudah mulai padam. Dalam ruangan gereja juga ditemukan jerigen yang berisi bensin sekitar 15 liter. Selain itu kaca jendela gereja juga pecah dan rusak. Fakta-fakta tersebut mengindikasikan bahwa upaya pembakaran gereja tersebut merupakan tindakan yang disengaja. Kejadian tersebut telah dilaporkan oleh Guru Huria (Vorhangeer – Majelis Gereja) dan jemaat GKPPD Gunung Meriah ke Polsek Gunung Meriah pada hari Rabu, 18 Juli 2012 sekitar pukul 09.00 wib. Garis Polisi (Police Line) terpasang di gereja yang mengakibatkan Jemaat tidak dapat melaksanakan Ibadah Kebaktian Minggu 22 Juli 2012 di gereja tersebut. Upaya pembakaran gereja ini kembali menambah luka hati jemaat yang masih belum pulih akibat penyegelan 20 rumah ibadah yang terjadi sebelumnya. (Sumber: Wikipedia)




Jumat, 27 September 2013

Pembukaan Pekan kebudayaan aceh yang ke VI


Ribuan Masyarakat Tak Diperbolehkan Masuk Pembukaan PKA VI
Oleh : Sangkuturi | 20-Sep-2013, 18:26:11 WIB

KabarIndonesia - Aceh, Ribuan masyarakat semenjak pagi sudah menunggu dan ingin melihat bagaimana berlansungnya acara Pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh ke VI oleh Presiden RI, yang selama beberapa tahun terakhir sudah ditunggu masyarakat sekitar. 

Berdasar pengamatan wartawan dari berbagai media cetak lokal dan luar negeri yang sengaja datang,  kondisi Aceh selama ini dalam kontek perdamaan masih berjalan dengan mulus dan terlaksana apa yang diharapkan oleh masyarakat Aceh.

Masyarakat Aceh saat ini sangat haus terhadap seni seni kebudayaan yang sudah lama tidak dilaksanakan dengan semestinya seperti apa yang diharapkan oleh masyarakat di berbagai belahan penjuru kota yang ada di Aceh.

Salah satu masyarakat yang jauh-jauh datang dari Aceh Tamiang, Arsal, iuntuk menyaksikan Pembukaan PKA Ke VI oleh bapak Presiden SBY merasa kecewa. Pasalnya tak seperti yang diharapkan, sesampai di Taman Ratu Safiatuddin ternyata tidak di perbolehkan masuk dikarenakan tidak ada surat undangan.

"Saya bertanya pada penjaga pengamanan pintu pagar PKA, apakah acara ini untuk pejabat dan saudaranya saja? Atau untuk aparat keamanan? Saya sangat heran kenapa penjagaan sangat ketat. Sudah seperti pada masa darurat militer penjagaannya. Apa yang akan terjadi di aceh?" keluhnya kecewa.

Selanjutnya ibu Anisah dari Sulussalam juga mengatakan seperti itu, "Saya sangat heran apa yang sudah terjadi lagi di Aceh? Sampai penjagaan Pekan Kebudayaan Aceh sangat ketat. Sampai sampai kami masyarakat tidak diperbolehkan melihat acara puncak daerah kami sendiri. Kalau memang tidak di perbolehkan masuk ke arena pembukaan, sebaiknya pihak panitia menyediakan layar lebar untuk siaran lansung di depan pnitu masuk PKA agar kami bisa menikmati kegiatan pembukaan yang di lakukan oleh bapak SBY," usulnya dengan sedih.

"Kita berharap pemerintah ke depan bisa menghargailah. Masyarakat kecil jangan dianggap patung. Salah satu jalan terbaik, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai untuk masyarakat  supaya bisa menikmati,'' pungkas Anisah berharap. (*)   


Dua Aneuk Mi melawan Uleu

video