Rabu, 24 Desember 2014

Tsunami Aceh 2004 di Tanoh Aulia Dalam Seujarah



Kronologi Bencana Tsunami 2004 di Aceh
Gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh 26 Desember 2004. Sebelumnya terjadi gempa hebat di dasar laut dekat Pulau Simeuleu. Berikut kronologi bencana tsunami sepuluh tahun lalu.

26 Desember 2004: Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai daratan Afrika.

27 Desember: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Bantuan internasional mulai digerakkan menuju kawasan bencana. Kawasan terparah yang dilanda tsunami adalah Aceh, Khao Lak di Thailand dan sebagian Sri Lanka dan India.

30 Desember: Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, menyebut jumlah korban sedikitnya 115.000 orang tewas. Jerman mengirim pesawat militer yang berfungsi sebagai klinik darurat ke kawasan bencana. Militer Jerman Bundeswehr dikerahkan untuk membantu korban bencana.

31 Desember: Indonesia dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah. Pemerintah Indonesia menyebut korban tewas akan melebihi 100.000 orang.

1 Januari 2005: Kapal induk Amerika Serikat "USS Abraham Lincoln" tiba di perairan Sumatra untuk membantu evakuasi korban dan penyaluran bahan bantuan. Helikopter Amerika Serikat dikerahkan dari kapal induk untuk membagikan bahan bantuan terpenting ke kawasan bencana di Aceh.

2. Januari 2005: Masyarakat internasional menjanjikan bantuan untuk kawasan bencana tsunami senilai 2 miliar US$.

4 Januari 2005: PBB menyatakan jumlah korban lebih banyak dari perkiraan semula, sedikitnya 200.000 orang tewas.

5 Januari 2005: Eropa memperingati korban tsunami dengan aksi mengheningkan cipta di berbagai kota besar dan dalam sidang parlemen. Jerman menyatakan sekitar 1.000 warganya yang sedang berwisata di Asia Tenggara hilang. Pemerintah Jerman memutuskan bantuan senilai 500 juta Euro untuk bantuan kemanusaiaan dan pembangunan kembali di kawasan bencana.

14 Maret 2005: Indonesia dan Jerman mulai membangun sistem peringatan dini tsunami. Perangkat teknisnya merupakan sumbangan Jerman kepada Indonesia, senilai 40 juta Euro. Sistem itu dikenal sebagai GITEWS (German Indonesian Tsunami Early Warning System). Tahun 2008 dikembangkan menjadi InaTews (Indonesia Tsunami Early Warning System).

19 Maret 2005: Sekitar 380 tentara Jerman yang bertugas di kawasan bencana kembali ke pangkalannya. Selama bertugas, mereka merawat sekitar 3.000 pasien korban bencana. Masyarakat Jerman mengumpulkan sumbangan bencana Tsunami senilai 670 juta Euro.
hp/ml (dpa)
Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Tsunami 2004?
Ahli geologi menyebut tsunami 2004 sebagai "gempa monster". Guncangan gempa berlangsung lebih lama dari biasanya. Disusul gunungan ombak yang menerjang pantai dengan kecepatan sangat tinggi.

Gelombang Tsunami Desember 2004 dicatat sebagai bencana alam terparah selama sejarah modern. "Sebuah peristiwa dengan dimensi tak terbayangkan, ditinjau dari aspek jumlah korban, maupun dari aspek geologis", tulis National Science Foundation (NSF), salah satu lembaga ilmiah paling bergengsi di Amerika Serikat.

Apa yang terjadi?
Gelombang raksasa terjadi setelah gempa bumi di bawah laut, sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra, pukul 07.59 waktu setempat. Pusat gempa ada pada kedalaman sekitar 30 kilometer di bawah dasar laut. Ada dua lempeng kontinental yang bertumbukan. Tekanan-tekanan hebat kemudian menyebabkan salah satu lempeng bergeser ke bawah lempeng yang lain. Itu yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, 

pada garis sepanjang 1000 kilometer. Ini peristiwa yang sangat jarang terjadi. Gempa bumi yang diakibatkan berlangsung sampai 10 menit. Biasanya, gempa semacam ini hanya berlangsung beberapa detik saja. Menurut berbagai perhitungan, kekuatan gempa saat itu mencapai 9,1 sampai 9,3 pada skala Richter, dan merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir. Tahun 1960, sebuah gempa bumi di Chile tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter.

Mengapa muncul gelombang raksasa tsunami?
Salah satu lempeng kontinental bergeser naik sampai 15 meter, jadi bergerak vertikal. Itu merngakibatkan dasar laut di beberapa tempat bergerak naik sampai 10 meter. Hal itulah yang membuat permukaan laut di lokasi naik secara tiba-tiba. Air yang terdorong kemudian membentuk gelombang besar, yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, secepat pesawat jet, dan bergerak ke arah pantai. Di daerah laut dalam, air yang bergerak cepat ini tidak terlalu terasa di permukaan. Tetapi menuju daerah pantai yang makin landai, gelombang akan bergulung makin tinggi. Di daerah pantai Sumatra, tinggi gelombang sudah mencapai sekitar 30 meter.

Bagaimana korban jiwa dan kerusakan akibat tsunami?
Di Samudra Hindia, dari Sumatra sampai Kepulauan Andaman, Thailand, India Selatan, Sri Lanka dan sebagian Afrika, ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara. Kerusakan terparah terjadi di Sumatra, dengan sekitar 170.000 korban tewas. Semua bangunan di daerah pantai hancur, di beberapa tempat sampai jarak lima kilometer di darat. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

Siapa saja yang punya kemungkinan selamat?
Turis yang sedang menyelam di tengah laut, merasakan arus air yang lebih kencang, tetapi mereka tidak mengalami apa-apa. Juga para nelayan yang sedang melaut, tidak merasakan akan ada gelombang raksasa. Penduduk yang bereaksi dengan cepat dan bisa melarikan diri ke tempat yang tinggi juga selamat. Orang-orang yang tingal di rumah tingkat, yang cukup tinggi dan cukup kuat menahan terjangan air serta barang-barang yang terseret bersama air, bisa selamat.

Apakah ada peringatan bagi penduduk?
Tidak ada pihak di kawasan bencana yang saat itu punya rencana darurat tsunami. Pusat peringatan tsunami Amerika Serikat yang ada di Hawaii ketika itu langsung menyadari, bahwa ada gempa bumi hebat dan ancaman munculnya gelombang raksasa yang dahsyat. Tapi mereka tidak tahu pihak-pihak mana yang harus dihubungi di kawasan bencana. Jadi mereka mengeluarkan peringatan secara umum.

Apa yang sudah dilakukan sejak bencana besar itu?
Sekarang sudah dibangun sistem peringatan dini tsunami di sepanjang perairan antara Indonesia dan Thailand. Setiap perubahan tinggi permukaan air diawasi selama 24 jam, dan ada peringatan otomatis jika terjadi perubahan mendadak. Pusat peringatan dini di Jakarta siap mengirimkan peringatan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dengan bantuan para ahli Jerman dari Pusat Penelitian Geologi di Potsdam, sistem peringatan dini tsunami berhasil difungsikan. Peringatan akan dikirim juga lewat SMS ke daerah-derah. Banyak hotel di kawasan pantai yang sekarang punya papan peringatan dan denah evakuasi jika ada ancaman tsunami.

Berapa besar resiko terjadinya tsunami di masa depan?
Tsunami tidak bisa diprediksi. Ketegangan antar lempeng yang bertumbukan selalu terjadi. Lempeng-lempeng kontinental di sebelah barat Sumatra sampai sekarang berada di bawah tekanan. Bulan April 2012, terjadi lagi gempa di bawah laut di kawasan ini yang berkekuatan 8,6 skala Richter. Tapi tidak terjadi gelombang tsunami yang besar dan luas. Mengapa? Karena lempengnya waktu itu bergerak secara horisontal. hp/vlz (dpa)

Selasa, 23 Desember 2014

Pengungsi Banjir Capai 19.000 KK


Atjeh Pusaka - Serambi Indonesia 
Banjir genangan akibat hujan deras maupun luapan sungai dilaporkan terus meluas di Aceh. Gelombang pengungsian tak terbendung. Data sementara hingga Senin kemarin, jumlah pengungsi sudah mencapai 19.138 kepala keluarga (KK) yang tersebar di Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Di Aceh Timur, sebanyak 20 dari 23 kecamatan terimbas dengan jumlah pengungsi hingga Senin kemarin telah mencapai 17.638 KK. Sedangkan pengungsi korban banjir Aceh Tamiang mencapai 1.500 KK atau sekitar 6.700 jiwa,  hingga Senin (22/12) banjir merendam kawasan-kawasan tertentu di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Rendaman banjir tersebut ada yang baru terjadi sejak dua hari terakhir dan ada pula yang terus berlanjut sejak lima hari lalu, seperti di wilayah timur Aceh.

Di Aceh Timur banjir mulai merendam sejak Kamis (18/12) dan terus berlanjut hingga Senin kemarin. Laporan terbaru yang diterima Serambi dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, hingga Senin (22/12) malam sebanyak 20 dari 23 kecamatan di wilayahnya terimbas banjir. Gelombang pengungsi tak terbendung, arus transportasi antar-kecamatan terganggu, dan ribuan hektare lahan pertanian berubah layaknya sungai. Banjir terus meluas di Aceh Timur karena curah hujan masih tinggi,” kata Syahrizal.

Data sementara hingga tadi malam, desa yang terendam banjir di Aceh Timur mencapai 198 desa dalam 20 kecamatan. Jumlah pengungsi sudah mencapai 17.638 KK.
Rincian wilayah yang terendam banjir di Aceh Timur masing-masing kecamatan Indra Makmur (12 desa), Pante Bidari (5 desa), Banda Alam (10 desa), Sungai Raya (10 desa), Julok (31 desa), Rantau Selamat (10 desa), Ranto Peureulak (10 desa), Simpang Ulim (4 desa), Idi Tunong (9 desa), Peureulak Kota (10 desa), Darul Aman (9 desa), Nurussalam (10 desa), Birem Bayeun (8 desa), Peureulak Timur (3 desa), Peunaron (6 desa), Peureulak Barat (8 desa), Darul Falah (8 desa), Idi Timur (11 desa), Madat (11 desa), dan Kecamatan Peudawa (13 desa).

Ketinggian air rata-rata berkisar antara 1-4 meter. Bupati Aceh Timur telah menetapkan daerahnya berstatus darurat banjir. Hingga tadi malam upaya evakuasi korban banjir terus dilakukan namun masih terkendala dengan minimnya rubber boat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aceh Timur, Ir Mahyuddin melaporkan terjadinya kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum akibat banjir seperti jalan, jembatan, tanggul sungai, saluran irigasi, lahan pertanian, dan perumahan.

Akses transportasi ke sejumlah kawasan juga terputus seperti di Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok menuju Desa Bukit Bata, Kecamatan Pante Bidari akibat jembatan diterjang banjir. Camat Ranto Peureulak, Syamsul juga menginformasikan, jalur transportasi dari Ranto Peureulak ke Kecamatan Peunaron juga masih putus karena sejak Kamis (18/12) ruas jalan di Desa Beurandang dan Desa Seumanah Jaya masih terendam dengan ketinggian 1–1,5 meter. Distribusi logistik ke Seumanah Jaya harus menggunakan truk tronton.

Di Kabupaten Pidie, puluhan desa dalam delapan kecamatan terendam banjir akibat hujan lebat sejak Senin (22/12) dini hari yang berakibat meluapnya Krueng Baro, Krueng Tiro, dan Krueng Paloh Padang Tiji. Desa-desa yang terendam banjir tersebar dalam Kecamatan Indrajaya, Padang Tiji, Mila, Delima, Peukan Baro, Kembang Tanjong, Kota Sigli, dan Kecamatan Pidie. Rumah anak yatim di pinggir sungai Gampong Meunasah Keutapang Aree, Kecamatan Delima ambruk ke dasar sungai namun penghuninya selamat.

Kepala Pelaksana BPBD Pidie, Apriadi SSos kepada Serambi, Senin (22/12) mengatakan, Krueng Baro meluap sekitar pukul 01.00 WIB dini hari menerobos masuk ke pemukiman warga. Hingga pukul 05.00 WIB, dini hari air telah mencapai setinggi lutut orang dewasa merendam permukiman.
Hingga kemarin Apriadi mengaku belum mendapat data rinci menyangkut musibah banjir yang melanda wilayahnya. Satu-satunya data yang diperoleh Serambi adalah dari Camat Padang Tiji, Zainal SSos. Menurut Zainal, sebanyak 258 rumah di wilayahnya terendam akibat luapan Krueng Paloh dan Krueng Rajui.

Pantauan Serambi, kemarin, Kapolres Pidie AKBP Sunarya SIK dan Dandim 0102 Letkol Inf M Mahmud Suharto Amir meninjau lokasi banjir di Padang Tiji. Hingga pukul 16.30 WIB kemarin, hujan masih mengguyur wilayah Pidie. Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Bireuen, sejak Minggu (21/12) malam hingga Senin siang kemarin mengakibatkan ratusan hektare sawah di enam kecamatan terendam. Areal persawahan yang terendam tersebar di Kecamatan Peudada, Jeumpa, Juli, Kuala, Kota Juang, dan Peusangan.
Di kawasan Peusangan, ratusan hektare tanaman padi tidak kelihatan lagi. Begitu juga benih di persemaian juga terendam.  Sekretaris Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan Bireuen, Ir Syahrul mengatakan, genangan terjadi selain akibat saluran sempit dan dangkal juga disebabkan tingginya curah hujan.

Dari Aceh Tamiang dilaporkan, hingga Senin kemarin stok logistik untuk korban banjir mulai menipis sementara kawasan yang terendam terus bertambah. Data sementara hingga tadi malam, julah pengunsgi sudah mencapai 1.500 KK atau sekitar 6.700 jiwa.
Kadis Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Tamiang, Ikhwan kepada Serambi, Senin (22/12) mengatakan, logistik untuk pengungsi korban banjir terus menipis bahkan beras sejak Minggu (21/12) kosong. “Stok logistik yang tersisa diperkirakan hanya bertahan untuk dua hari ke depan,” katanya.

Selain di Dinas sosial, stok logistik di BPBD Aceh Tamiang juga menipis, hanya bertahan untuk keadaan darurat sedangkan stok beras sama sekali tidak ada. Kepala BPBD Aceh Tamiang, Jalaluddin meminta pengusaha perkebunan yang ada di Aceh Tamiang agar mau membantu beras untuk korban bencana.
Hingga kemarin kawasan hilir Aceh Tamiang mulai terendam banjir terutama di Kecamatan Seruway. Informasi dari Datok Peukan Seruway, Adek menyebutkan, banjir di wilayahnya sudah merendam lebih 657 rumah di Desa Gelong, Kampong Baru, Muka Sungai Kuruk, Paya Udang, Tangse Lama, Peukan Seruway, dan sebgaian Desa Binje.

Di Kabupaten Aceh Besar, banjir genangan akibat luapan Krueng Aceh dan beberapa anak sungai lainnya sempat merendam beberapa desa di Kecamatan Seulimuem, Kuta Cot Glie, Kuta Malaka, dan Kecamatan Blangbintang.
Pengurus RAPI Aceh Besar, Ikbal melaporkan, di Kecamatan Seulimuem sempat terjadi genangan di Gampong Lhiep akibat tebing sungai jebol.  Berikutnya di Kecamatan Kuta Cot Glie, luapan Krueng Aceh menggenangi Gampong Tui. Informasi itu dibenarkan Wakapolres Aceh Besar, Kompol Sulaiman yang menyebutkan pihaknya sempat menurunkan tim dan membuka posko di Gampong Tui.

Berikutnya di Kecamatan Kuta Malaka, areal persawahan Gampong Lam Ara Eungkieng dan Lam Ara Cut sempat tergenang banjir luapan Krueng Tuan Meurah akibat jebolnya tanggul sungai. Sedangkan di Kecamatan Blangbintang, tepatnya di Gampong Teupin Batee dan Gampong Cot Leuot luapan air sungai menggenangi permukiman warga. “Pada sore harinya air sudah berangsur surut, namun masyarakat tetap siaga,” kata Ikbal.
Laporan lainnya menyebutkan, jembatan gantung penghubung Lampisang-Tanoh Abee, Kecamatan Sulimuem putus akibat terjangan arus sungai. Masih di Kecamatan Sulimuem, juga terjadi longsoran tebing menimbun sebagian badan jalan di Gampong Alue Gintong.
Puluhan desa yang tersebar dalam belasan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara terendam banjir mulai Minggu (20/12) malam hingga Senin (22/12) malam.

Desa-desa yang terendam banjir di Aceh Utara tersebar di Kecamatan Langkahan, Tanah Jambo Aye, Lhoksukon, Cot Girek, Baktiya Barat,  Lapang, Tanah Pasir, Syamtalira Aron, Matangkuli, Pirak Timu, Tanah Luas, Meurah Mulia, Geureudong Pase, dan Simpang Keuramat. Kondisi terparah terjadi di Matangkuli, Pirak Timu, Lhoksukon, dan Langkahan dengan ketinggian air dalam rumah antara 2-2,5 meter. Puluhan sekolah terpaksa diliburkan.

Wakil Bupati Aceh Utara, M Jamil bersama Wakil Ketua DPRK Aceh Utara Abdul Mutaleb dan Mulyadi CH juga turun ke lokasi banjir untuk memantau kondisi.
Di Lhokseumawe, ratusan rumah dan puluhan hektare sawah di sejumlah lokasi juga terendam. Namun hingga sore kemarin, belum ada warga yang harus mengungsi. Di Kecamatan Blang Mangat, banjir melanda Desa Asan Kareung, Meunasah Blang, Meunasah Kumbang, Meunasah Rayeuk Kareung, Alue Lim, dan Blang Buloh.(c49/naz/c38/yus/md/jf/bah/mr)

Empat Pimpinan DPR Aceh Dikukuhkan

Atjeh Pusaka - DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh menggelar sidang paripurna pengukuhan pimpinan dewan, Selasa, 23 Desember 2014. Sidang yang dimulai pukul 11.35 Wib di ruang sidang utama DPR Aceh tersebut berlangsung khidmat dan lancar. 

Adapun keempat pimpinan yang dikukuhkan hari ini adalah Tengku Muharuddin dari Partai Aceh sebagai Ketua DPRA, Sulaiman Abda dari Golkar sebagai Wakil Ketua I DPRA, Teuku Irwan Djohan, ST dari Nasdem sebagai Wakil Ketua II DPRA, dan Dalimi dari Demokrat sebagai Wakil Ketua III DPRA. 

Selain itu, sidang paripurna tersebut juga mengambil sumpah jabatan dua anggota DPR Aceh, Drs. H. Djasmi Has dari Fraksi Nasdem dan Hj Siti Naziah, S Ag untuk masa bakti 2014-2019. Kedua dewan tersebut absen saat pengukuhan bersama 79 anggota DPRA sebelumnya karena sedang melaksanakan ibadah haji. - See more at: http://atjehpost.co/

Selasa, 09 Desember 2014

Urap Khas Aceh


Bahan bahannya:
Kacang tanah, goreng, lalu tumbuk
Daun singkong (pilih yang muda)
Kacang panjang
Udang, direbus
Kelapa setengah tua (kelapa untuk urap), parut
Cabai merah giling
Bawang merah
Bawang putih
Jahe
Asam sunti
Garam
 Cara Membuat:
1. Semua sayuran dicuci bersih, potong-potong dan rebus. Sisihkan.
2. Bawang merah dan bawang putih serta jahe digiling, aduk rata dengan parutan kelapa urap dan cabai merah. Tambahkan udang rebus, giling lagi sampai halus.
3. Masukkan asam sunti dan garam, aduk rata dengan kacang tanah yang sudah ditumbuk.
4. Sajikan dengan sayuran yang sudah disiapkan.

Catatan:
Merebus Daun Singkong: Bila kamu asal-asalan merebus daun singkong, rasa daun akan pahit dan tidak enak dimakan. Tips memasak daun singkong supaya tidak pahit adalah remas-remas daun singkong dengan garam, lalu bilas dengan air dan masukkan ke dalam wadah berisi air dan jerang sampai mendidih dan daun singkong menjadi empuk. Buang air rebusan dan daud singkong siap diolah menjadi masakkan yang kamu inginkan.
Merebus Kacang Panjang: Jika kamu merebus kacang panjang terlalu lama maka kacang panjang akan terasa pahit. Tips untuk memasak kacang panjang adalah, potong-potong kacang panjang dan masak kacang panjang dengan air sampai kira-kira 3/4 matang. Tiriskan kacang panjang dan siram dengan air es. Kacang Panjang akan tetap renyah dan warnanya tetap hijau.

DIPA Aceh 2015 Rp 26,9 Triliun

Atjeh Pusaka - Serambi Indonesia
JAKARTA - “Selamat, Pak Zaini,” kata Presiden Joko Widodo saat menyerahkan dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Aceh 2015 sebesar Rp 26,9 triliun kepada Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/12) pagi.

Dari jumlah tersebut Pemerintah Aceh mengelola Rp 9,9 triliun, selebihnya dikelola 23 kabupaten/kota sebesar Rp 17,1 triliun lebih. Pengelolaan dana provinsi kali ini mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun lalu sebesar Rp 6,7 triliun.
Gubernur mengingatkan bahwa jumlah total pagu DIPA yang diserahkan untuk Aceh kemarin itu, termasuk di dalamnya DIPA untuk instansi vertikal, seperti Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, Kejaksaan Tinggi, Kanwil Kemenkumham, Kanwil Kemenag, seluruh PTN di Aceh, termasuk Kopertis XIII Wilayah Aceh, Badan Pertanahan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPN dan BPS) Aceh.

Mengenakan kemeja batik cokelat, Gubernur Zaini saat menjawab Serambi mengatakan akan memanfaatkan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan. “Aceh merupakan salah satu daerah lumbung pangan, maka kita akan kerahkan perhatian kepada kemandirin pangan,” kata Gubernur Zaini.
Menurutnya, Aceh masih membutuhkan dana lain untuk pembangunan dan rehabilitasi jalan dan jembatan akibat musibah banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh dalam tahun ini. 

Daerah paling parah dilanda banjir adalah Aceh Singkil, sedangkan tanah longsor terparah dampaknya di lintasan Aceh Besar-Aceh Jaya maupun di lintasan Gayo Lues-Aceh Tengah.
“Kita harapkan semua itu ditangani pusat. Saya sudah sampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa perlu penanganan yang komprehensif untuk mengatasi bencana banjir dan tanah longsor di Aceh,” kata Zaini.

Untuk Dana Desa Rp 266,7 Miliar

DIPA Aceh Tahun 2015 itu bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Rp 283,8 miliar, DBH Sumber Daya Alam Rp 658,9 miliar, Dana Alokasi Umum (DAU) Rp 1,23 triliun, Dana Alokasi Khusus (DAK) 88,1 miliar, Dana Otonomi Khusus Rp Rp 7,0 triliun, Dana Transfer Lainnya Rp 608,3 miliar, dan Dana Desa Rp 266,7 miliar.

Gubernur menjelaskan, Dana Desa langsung dikirimkan kepada desa melalui masing-masing kabupaten/kota. “Pemerintah provinsi tidak menerima satu rupiah pun dana desa tersebut,” ujar Gubernur Zaini. Ia mengharapkan agar Dana Desa benar-benar memberi manfaat langsung kepada masyarakat desa. “Silakan dikelola sendiri untuk sepenuhnya bagi kepentingan desa,” tukas Gubernur Zaini.

Menyusul diterimanya DIPA Aceh 2015, Gubernur Zaini mengharapkan DPRA secepatnya menetapkan pimpinan definitif dan alat kelengkapan DPR Aceh.
“Saya mendengar masih ada ‘cekcok’ di DPRA soal pimpinan dan alat kelengkapannya. Kita harapkan segera selesai,” kata Anggota Tuha Peuet Partai Aceh ini.

Apabila sampai pada tenggat yang ditetapkan belum juga selesai dipilih pimpinan definitif, sehingga Qanun RAPBA 2015 tak bisa disahkan sebelum 31 Desember tahun ini, maka Gubernur Zaini Abdullah akan mengeluarkan peraturan gubenur (Pergub), sehingga anggaran tahun 2015 bisa segera dimanfaatkan.

Gubernur menyebutkan, tertunda-tundanya pembentukan alat kelengkapan DPRA itu dengan sendirinya ikut merugikan rakyat. “Terpaksa kita berpedoman kepada APBA tahun lalu,” sebut Gubernur Zaini Abdullah. (fik)
GUBERNUR Aceh Zaini Abdullah saat menerima dokumen DIPA Aceh 2015 dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/12).