Rabu, 16 Desember 2015

Bus Super Mewah Mulai Melintasi Jalan Raya B. Aceh - Medan

Bus-bus ini dilengkapi dengan mesin Scania yang diimpor langsung dari Eropa. Tiap bus memiliki kabin yang mewah dan bersih. Tak seperti bus lintas provinsi kebanyakan.
Atjeh Pusaka - Munculnya bus lintas Provinsi Banda Aceh - Medan, kini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, tak seperti bus lintas provinsi lainnya, bus yang belum lama diluncurkan ini menawarkan banyak keistimewaan. Tak heran jika armada baru ini begitu menarik perhatian masyarakat.
Lantas seperti apa keistimewaannya? Bus-bus lintas provinsi ini memiliki desain yang keren dan memberikan kenyamanan sekaligus kemewahan bagi para penggunanya.
Armada baru ini diluncurkan oleh Sempati Star Scania Jetbus, perusahaan baru yang dihuni oleh orang-orang lama di dunia transportasi darat.
Bus-bus produksinya dilengkapi dengan mesin Scania yang diimpor langsung dari Eropa. Tiap bus memiliki kabin yang mewah dan bersih.

Pada kecepatan di atas 150 km/jam, suspensi bus akan turun sehingga bodi bus seperti menyentuh jalan. Dengan demikian penumpang akan merasa sangat nyaman selama melakukan perjalanan dengan bus ini.
Bus lintas Aceh - Medan ini pun tak ayal ramai diperbincangkan terutama di kalangan traveler. Foto-fotonya pun banyak menyebar di media sosial Facebook. Penasaran dengan bus ini? Yuk intip kemewahannya.
Kemewahan Bus Lintas Aceh-Medan Jadi Sorotan Traveler
Kemewahan Bus Lintas Aceh-Medan Jadi Sorotan Traveler
Kemewahan Bus Lintas Aceh-Medan Jadi Sorotan Traveler


(Ism, Sumber: Facebook Bus Sempati Star)

Rabu, 09 Desember 2015

Beberapa Olah Raga Tradisional Aceh


Mayoritas olahraga ini digelar untuk menyeleksi prajurit di masa kerajaan tempo dulu
SEORANG pria bertelanjang dada menjentikkan jarinya. Kedua kakinya memasang kuda-kuda di atas tumpukan jerami. Tubuhnya gempal. Kulitnya sedikit pekat. Di sisi lain, dua pria yang juga bertelanjang dada juga terlihat bersiap-siap di arena. Satu tangan mereka saling menggenggam antara keduanya.

Tak lama berselang, kedua pria tersebut mengarah ke sosok pria bertubuh gempal. Mereka berhasil menyergap pria tersebut hingga dipisahkan oleh seorang pria lainnya, yang bertindak sebagai juri. Ini adalah sekilas ilustrasi geudeu-geudeu, salah satu olahraga tradisional Aceh yang berasal dari Pidie dan Pidie Jaya.
Olahraga ini identik dengan gulat atau sumo di Jepang. Seni bela diri ini dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu tim terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu-geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap selesai panen padi.

Kisah kelahiran geudeu-geudeu berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Hingga sekarang, geudeu-geudeu tidak pernah memperebutkan kejuaraan karena dinilai sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal.
Di Pidie dan Meureudu, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen) atau saat bulan purnama, geudeu-geudeu kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kekar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lebam. Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar 'pleh bren' alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebanggaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.

Sebagai seni beladiri, geudeu-geudeu merupakan olah raga keras. Petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.
Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena mereka kembali menjalin silaturahmi dengan ngopi bersama.

Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua kategori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan dan juga emosi.
Para petarung geudeu-geudeu biasanya dibagi dalam dua kelompok. Petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung lainnya dengan mengkacak-kacak sambil 'keutrep jaroe' membunyikan jari. Arena biasanya terbuat dari jerami yang berfungsi sebagai matras.

Petarung pertama yang menantang dua lawan disebut ureung tueng (penantang). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menerima tantangan). Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya. Dan Khusus bagi ureung tueng boleh menggunakan gempalan tanganya untuk memukul dimana saja, kecuali di bawah pusar.

Untuk ureung pok mereka hanya boleh membanting dan menghempas sambil mereka berpegangan tangan. jika pegangan tangan ureng pok ini terlepas atau salah satu dari mereka roboh akibat hantaman ureung tueng, maka mereka dianggap kalah.
Begitu juga dengan ureung tueng, apabila ureung pok sanggup menghempas atau membantingnya maka dia dianggap kalah.

Pada babak ke dua, posisi pemain dibalik. Posisi tueng akan beralih ke pok, begitu juga sebaliknya. Hal ini terus berlangsung dalam limit waktu tertentu. Sampai salah satu pihak menang.
Lazimnya sebuah pertandingan, geudeu-geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.

Biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu.
Seorang wasit geudeu-geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. Karena antara professional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan.

Selain geudeu-geudeu, olahraga tradisional Aceh lainnya adalah silet atau silat. Olahraga beladiri ini hingga sekarang masih terus berkembang di Aceh bahkan telah menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di event internasional. Silat pada umumnya bisa ditemukan di tanah Melayu.

Namun khusus untuk olahraga tradisional silet Aceh, pola permainannya sedikit berbeda. Ada satu lawan satu, satu lawan tiga, dan ada juga yang pandai main silat dengan satu lawan sepuluh, tergantung pada tingkat kepandaian masing-masing. Olahraga ini sedikit lebih ekstrem dibandingkan geudeu-geudeu. Pasalnya pemain silet kerap mengikutsertakan senjata tajam seperti pisau, rencong, atau keris dalam unjuk kebolehannya.
Selanjutnya adalah olahraga berkuda. Di masa kerajaan, olahraga ini sering dipertandingkan untuk melihat ketangkasan berkuda sambil mempermainkan pedang, seakan-akan sedang menyerang musuh. Olahraga berkuda ada yang diperlombakan secara perorangan dan ada juga yang secara beregu. Pada masanya, olahraga ini digelar untuk menyeleksi prajurit yang paling terampil. Nantinya si pemenang akan diangkat sebagai pimpinan perang pasukan berkuda.

Olahraga tradisional Aceh lainnya adalah menembak. Merujuk catatan Usman Husein dkk, dalam buku Aceh Serambi Mekkah terbitan Pemerintah Aceh pada 2008, menyebutkan ada dua macam olahraga menembak yang sangat digemari dan dibina di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kedua macam olahraga menembak tersebut adalah cabang menembak menggunakan senapan dan cabang menembak menggunakan panahan. Sama halnya dengan olahraga berkuda, pertandingan menembak dilakukan untuk menyeleksi prajurit-prajurit unggulan kerajaan yang bakal dikirim ke medan pertempuran.

Terakhir adalah olahraga Cabang. Olahraga ini adalah game strategi semisal catur atau permainan halma. Cabang merupakan olahraga para pembesar istana yang sering dipertandingkan pada acara tertentu. Olahraga ini dipertandingkan untuk melihat kecerdasan seorang pemain dalam mengatasi lawannya. Permainan cabang sangat digemari Sultan Aceh pada saat itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya ukiran rumusan olahraga ini di tempat istirahat raja yang sekarang menjadi koleksi Museum Aceh. 

BOY NASHRUDDIN . 09 December 2015 21:00 (Portal Satu)

Sabtu, 21 November 2015

khazanah Atjeh di Malaysia

Kuala Lumpur - Atjeh pusaka
KHAZANAH adalah berupa harta benda yang dipunyai, barang yang pernah digunakan dan peninggalan masa lalu yang dipakai oleh manusia. Peninggalan Aceh di Tanah Melayu sudah wujud sejak kerajaan Islam Pasai abad ke-13 untuk mengembangkan Islam dan ketika penaklukan orang Aceh menyerang Portugis di Melaka 1537 dan beberapa kali penaklukan sampai 1629, di mana Aceh telah menguasai hampir seluruh Malaysia yang meninggalkan nama Aceh, banyak khazanah Aceh masa lalu yang masyhur dan dikagumi. Penghijrahan orang Aceh terjadi lagi pada abad ke-18 ketika perang dengan Belanda. Kedatangan seterusnya sebagai pendakwah, perantau yang menetap di berbagai daerah di Malaysia dan meninggalkan monumen sejarah yang tersohor dan peradaban yang unik.
Masyarakat Aceh berhijrah ke Malaysia dulu banyak tinggal di kampung Aceh di Kedah. Orang Aceh di Kedah bertani dan berniaga sehingga terbentuk kampung Aceh di Yan Kedah. Kampung Aceh di Yan yang paling masyhur dan terkenal di antara kampung Aceh yang lain di Malaysia. Di sini menetap banyak ulama dari Aceh yang membuka pendidikan dayah. Di kampung Aceh Yan terdapat khazanah orang Aceh berupa bangunan meunasah Aceh, bekas dayah, kuburan ulama Aceh, rumah Aceh, adat dan budaya sebagai bukti eksistensi orang Aceh. Di Kampung Yan terdapat pula jalan Teungku Chik di Lam U, nama ulama Aceh. Mereka di kampung Aceh, menggunakan bahasa Aceh, beradat Aceh dan mereka bangga dengan keturunan Aceh.
Khazanah Aceh terdapat juga di Perak yaitu kampung Aceh yang terletak di Setiawan Perak. Kampung Aceh di Perak termasuk dalam zona industri yang kini berkembang pesat sebagai tempat menanam modal. Kampung Aceh ini sangat strategis karena berdekatan dengan pelabuhan Lumut Perak. Dalam zona industri kampung Aceh terdapat banyak bidang usaha yang cukup berkembang. Dalam bidang perhiasan di Perak terdapat khazanah Aceh yang terkenal yaitu kalung Aceh, peninggalan Aceh yang dulu pengrajin emas berasal dari Aceh dan pakaian tradisional Aceh masih dipakai oleh para penari wanita di Perak. Di Perak terdapat kampung yang penduduknya mengaku orang Aceh dan berbahasa Aceh, diperkirakan orang yang tertinggal masa Aceh menyerang Perak dulu.
Masjid Lebuh Aceh
Khazanah Aceh yang terkenal di Pulau Pinang dan dikagumi adalah jalan Lebuh Aceh dan Masjid Lebuh Aceh sebagai masjid tertua, klasik, menarik dan sangat terkenal di Pulau Pinang. Masjid Lebuh Aceh dibangun pada 1808 oleh saudagar kaya, Tgk Said Husein Aidid, orang Aceh keturunan Yaman yang datang ke Pinang pada 1792, ketika Pulau Pinang dibuka oleh Kapten Francis Light abad ke-18. Orang Aceh di Pulau Pinang banyak yang menjadi saudagar sukses, membangun masjid dan membentuk komunitas masyarakat Aceh yang mendiami jalan Lebuh Aceh dan sekitarnya. Pada 1883 terdapat 347 orang Aceh di sini, yang umumnya menjadi saudagar sukses, berperan penting dan cukup berjasa dalam membangun ekonomi di Pulau Pinang ketika itu.
Said Husein yang membangun Masjid Lebuh Aceh yang mewah dan megah, menjadi khazanah Aceh. Ia taat beragama, membuka pusat pengajian Islam, membangun kantor perdagangan dan membina rumah toko dengan arsitektur tradisional yang berderetan di jalan Lebuh Aceh. Ia meninggal pada 1840 dan dimakamkan di belakang masjid. Masjid yang kini menjadi objek wisata, monumen sejarah, sarat dengan arsitektur moor, Cina dan pengaruk klasik sebagai peninggalan khazanah Aceh yang menarik dan unik. Rumah Said Husein pernah dijadikan muzium Islam Pulau Pinang dan disebut sebagai rumah Aceh. Jalan Lebuh Aceh merupakan daerah istimewa, strategis terletak pusat kota George Town dan di sekitarnya merupakan tanah wakaf masyarakat Islam peninggalan keturunan masyarakat Aceh.
Menurut Abdullah Hussain sastrawan negara, yang menulis tentang orang-orang Aceh di Malaysia menyatakan, Masjid Aceh lain di Pulau Pinang dibangun pedagang kaya Aceh Nyak Hitam di jalan Datok Kramat, dikenal dengan nama Masjid Aceh Kebun Lama sebagai khazanah orang Aceh. Jalan Datok Keramat, nama pedagang dari Aceh Haji Keramat yang berhasil dan kaya. Di sini lahir P Ramlee, seniman agung Malaysia keturunan Aceh. Padagang Aceh yang juga kaya adalah Haji Bayan sehingga namanya diabadikan nama kampung Bayan Lepas untuk mengenang jasanya dan banyak peninggalan hartanya di kampung ini. Haji Mohd Salleh, orang kaya Aceh yang mendirikan masjid di jalan Abu Siti Lane yang dikenal dengan Masjid Tarik Air Wakaf Haji Mohd Salleh Al-Achee.
Menurut Abdullah Hussain, di Pulau Pinang terdapat khazanah Aceh seperti jalan Nyak Abu nama padagang Aceh dulu dan ada kampung Nyak Puteh nama orang Aceh kaya, memiliki toko, puluhan truk yang membekalkan pasir kepada pemerintah. Khazanah Aceh lain di Pulau Pinang yaitu kampung Sungai Aceh, terletak di daerah Nibong Tebal. Sungai Aceh merupakan kawasan yang luas sama dengan satu Kecamatan kalau di Aceh. Daerah Sungai Aceh diwakili oleh seorang wakil rakyat (DPRD II), terdapat fasilitas lain sebagai daerah wakil rakyat. Di Pulau Pinang terdapat pantai Aceh, yang saat ini menjadi tempat melihat anak bulan (hilal) ketika menentukan awal Ramadhan dan terdapat pula komunitas masyarakat Aceh di sini.
Di Pulau Langkawi terdapat juga khazanah Aceh, menurut dua orang wartawan Berita Harian Malaysia yang menyelidiki mesteri etnik Aceh di Malaysia menceritakan bahwa, orang Aceh dulu mendarat di Langkawi pergi ke kedai untuk membeli nasi. Ketika sampai di kedai nasi sudah habis, lalu berkata langkah wie, mereka sial tidak mendapat nasi kerena menggunakan kaki kiri yaitu langkah wie. Konon nama Pulau Langkawi berasal dari kata langkah wie. Di pulau ini ada gunung yang oleh orang Aceh disebut Gunung Raya, di sini ada bukit dengan nama bukit Nyak Hitam, nama orang Aceh.
Bukit Tekoh
Menurut Abdullah Hussain lagi, orang Aceh di Langkawi menetap di daerah banyak bambu, orang Aceh beri nama kampung Trieng. Orang Melayu tidak bisa menyebut trieng, mereka menyebut Teriang, maka sampai sekarang menjadi kampung Teriang. Orang Aceh yang mengorek (kuh) bukit untuk mudah dilalui, diberi mana Buket Teukuh. Orang Melayu tidak bisa menyebut buket teukueh, mereka menyebut bukit tekoh, maka sampai sekarang menjadi Bukit Tekoh, tempat orang Aceh dulu menanam lada disebut Bukit Aceh dan Kebun Lada.
Di Negeri Johor terdapat khazanah kampung Aceh yaitu Kampung Perigi Aceh yang terletak di daerah Pasir Gudang dan dikelilingi oleh kawasan industri Tanjung Langsat Johor. Menurut sejarah, kampung perigi Aceh bekas peninggalan pendaratan tentara Aceh, tempat berkumpul, mengatur strategi dan kesiagaan tentara Aceh sebelum menyerang kota Johor Lama beberapa ratus tahun dulu. Tentara Aceh mungkin menggali perigi atau sumur untuk keperluan mereka, maka disebut Kampung Perigi Aceh.
Khazanah Aceh yang terkenal di Malaysia adalah batu nisan Aceh yang diukir oleh orang Aceh sejak abad ke-14 sampai 19 dan tersebar di seluruh Nusantara. Batu nisan Aceh digunakan pada makam raja-raja Melayu ketika itu. Batu nisan Aceh memiliki seni ukir yang cantik, menarik dan bernilai tinggi. Di komplek makam Tun Habab dan komplek makam Sultan Mahmud di Kampung Makam Kota Tinggi Johor terdapat 16 batu nisan Aceh dan komplek makan ini menjadi tempat menarik sebagai objek wisata. Menurut data Mesium dan Antikuti Kuala Lumpur, terdapat 301 buah batu nisan Aceh di seluruh Malaysia. Batu nisan Aceh yang terbanyak di Johor 211 buah, yang lain terdapat di berbagai negeri yang terkenal sebagai batu nisan khazanah Aceh.
Di Malaysia terdapat banyak khazanah Aceh seperti kitab-kitab yang ditulis oleh ulama silam yang perlu kajian dan telah lahir tokoh keturunan Aceh yang berprestasi dalam pemerintahan Malaysia seperti pernah menjadi menteri, kepala polisi negara, sebagai gubernur, anggota parlemen, sastrawan negara, seniman agung, pelukis tersohor, tokoh budaya dan orang penting. Orang Aceh di perantauan gigih dan rajin bekerja, menjadi perantau yang hebat, unggul, sukses, memberi bekas, meninggalkan kesan yang unik, lahir tokoh Aceh yang mengharumkan nama Aceh dalam catatan lipatan sejarah sebagai mercu dan simbol kegemilangannya. Semua orang Aceh mampu mengangkat mertabat Aceh yang terus maju jaya, berkembang dan berhasil di tingkat lokal dan global. Semoga!
* Dr. Razali Muhammad Ali, MA., alumnus S3 Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya.

Yang Tersisa Dari 10 tahun Peringatan MoU Antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki

Mantan Panglima GAM Linge, Marzuki AR atau yang akrab disapa Wien Rimba Raya . Foto/SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR

Atjeh Pusaka 
Mantan Panglima GAM Linge, Marzuki AR atau yang akrab disapa Wien Rimba Rayamengatakan peringatan 10 tahun perjanjian MoU Helsinki tahun ini hanya sebatas kegiatan seremonial yang sia-sia.

Karena tidak ada upaya untuk menegaskan penyelesaian poin dari UUPA setelah sepuluh tahun, seharusnya dihadapan wakil presiden Yusuf Kalla dan tamu undangan asing, Gubernur Aceh mempertegas dan memberi target untuk menyelesaikan semua isi UUPA.
“Sebagai mantan kombatan GAM, saya kecewa melihat peringatan Mou Helsinki kali ini yang hanya seromonial dan nostalgia para tokoh perdamaian, sehingga hanya menghabiskan uang rakyat”, ujar Win Rimbaraya.
Ia melihat di usia 10 tahun perdamaian, Aceh kehilangan moment bahkan hilang “ceudah” dan “beuhe”. Artinya, tidak ada lagi kecerdasan dalam merealisasikan UUPA dan berani bersuara lantang memperjuangkan UUPA.
Win juga mengaku kecewa, karena dalam acara seremonial dalam 3 hari itu, tidak ada tokoh dari kombatan GAM yang ditunjuk sebagai pembicara atau keynote spiker.
Padahal kombatan GAM merupakan ujung tombak terwujudnya perdamaian di Aceh. Karena semuanya bersedia turun gunung demi damai Aceh.

Mantan menteri pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman berbincang dengan mantan ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith pada gala dinner jelang konferensi Internasional Peringatan 10 Tahun Perjanjian MoU Helsink/ SERAMBI/M ANSHAR

Setelah 10 menit perbincangan, Serambi pun mendekati Apa Karya, menanyakan apa yang dibicarakan dengan Pieter Feith. Apa Karya mengaku, ia bicara singkat dengan Pieter Feith, hanya sekadar mengenang sejarah yang tak bisa dilupakan, yakni saat dirinya dijumpai Pieter Feith di sebuah hutan di Aceh.
“Waktu itu, keputusan Helsinki, GAM, dan Jakarta, tidak boleh teken dulu kalau belum berjumpa dengan pasukan yang masih berada di gunung atau di dalam hutan. Jadi, Pieter Feith waktu itu pergi dengan helikopter mencari saya atas arahan Wali Nanggroe. Jadi jumpalah kami di gunung dan sempat bicara selama tiga jam. Pulang Pieter Feith dari situlah baru diteken,” kata Apa Karya seraya menambahkan sudah sekitar empat tahun mereka tidak berjumpa.
Perintah untuk menjumpai dirinya saat itu dilakukan Pieter Fieth sebagai arahan sebelum penandatanganan MoU Helsinki. Pertemuan itu, kata Apa Karya dimaksudkan untuk meminta persetujuan dari pasukan GAM yang masih berjuang di gunung. “Karena jika tidak dilakuakn begitu akan sangat bahaya, di sana diteken, pasukan tidak terima. Saya ingat sekali Piter Feith datang denga Helikopter bersama rombongan dan mencari-cari tanda yang sudah kami beri untuk mendarat, saya bicara dengannya pakai bahasa Sweden saat itu,” kata Apa Karya mengenang.
Perjumpaan itu, sebut Apa Karya, sebagai keputusan terakhir sebelum kesepakatan damai ditanda tangani di Helsinki, Finlandia. Setelah Pieter Feith bicara selama tiga jam dengan dirinya, Piter Feith bersama rombongan langsung kembali ke Helsinki untuk melanjutkan perundingan.

Pasukan Bang Din Minimi di dalam hutan Aceh Timur
Eks GAM Aceh Timur Tuntut Janji “Angin Surga” Dalam MoU Helsinki Kepada Pemerintah Aceh
Konflik di Aceh telah lama berakhir, penandatanganan MoU RI-GAM telah membuahkan sebuah solusi yakni Perdamaian.
Dalam hal ini pemerintah Indonesia menyepakati beberapa tuntutan GAM diantaranya yakni dukungan pemerintah indonesia dalam segi pemberdayaan ekonomi bagi para Mantan TNA maupun Tapol,/Napol GAM.
Hal tersebut tertuang dalam isi MoU,dimana pemerintah indonesia berjanji akan mendukung pelaksanaan Reintegrasi mantan TNA dan Tapol- napol GAM ke tengah masyarakat dengan berbagai dukungan dukungan dana bantuan usaha dan penyediaan rumah, lahan pertanian maupun pembukaan peluang pekerjaan.
Namun janji dalam MoU tersebut di nilai oleh para mantan combatan dan tapol-napol GAM hanyalah sebuah angin surga pemerintah dan jika janji tersebut memang ada direalisasi hanya sebatas para pimpinan GAM.
Seperti di ungkapkan oleh Musliadi alias krengkeng mantan combatan GAM Wilayah Peudawa Idi, Dirinya merasa kecewa terhadap realisasi isi MoU Helsinki yang juga janji pemerintah RI akan memberi lapangan kerja untuk para mantan TNA juga Tapol GAM.
Namun hingga telah 10 tahun perdamaian di Aceh berlalu dirinya dan rekan-rekan eks TNA lainnya tidak memiliki pekerjaan apapun meski telah beberapa kali berupaya meminta pekerjaan pada pimpinan pemerintahan aceh yang saat ini dipimpin oleh para pimpinan GAM yang juga juru runding dalam Penandatangan MoU Helsinki.
Menurut musliadi yang juga mantan napol GAM yang ditahan atas kasus Bom Plaza Medan Mall di sumut, kehidupan dirinya bersama rekan-rekannya tidak berbeda jauh ketika konflik,namun sayangnya hanya sebahagian kecil mantan combatan yang hidup berkecukupan pasca perdamaian.
“ Usia perdamaian sudah 10 tahun tapi kami mantan TNA,jangankan mau diberi rumah ataupun lahan pertanian, peluang lapangan pekerjaan pun tidak diberikan oleh pemerintah,apa arti perdamaian jika toh semua janji pemerintah tidak pernah di realisasi Cuma “Angin Surga”, ujar musliadi kepada wartawan Senin (17/11).
Ketika ditanya mengenai munculnya kelompok eks combatan TNA bersenjata seperti Din minimi yang berlatar belakang menuntut keadilan dalam perdamaian kepada Pemerintahan Aceh yang juga pimpinan GAM.
Musliadi menyatakan dirinya sangat setuju dengan aksi yang dilakukan oleh kelompok tersebut yang juga adalah mantan TNA GAM ketika Aceh masih konflik.
“Meunyoe Pemerintahan Aceh ato pimpinan GAM hana geupakoe mantan teuntra dilapangan maka akan le timoh kelompok laen lom yang beut senjata lake keadilan dalam perdamaian di Aceh”.
(Kalau Pemerintahan Aceh atau Pimpinan GAM tidak memperhatikan nasib mantan Teuntara GAM dilapangan maka akan banyak tumbuh kelompok lain lagi yang angkat senjata tuntut keadilan dalam perdamaian di Aceh), ungkap Musliadi yang telah memiliki 3 orang anak .

Minggu, 18 Oktober 2015

Pembukaan Expo UKMK dan Pentas Seni Aceh Tamiang 2015


Pak Asroelak Kadis Perindagkop Aceh Tamiang menyampaikan laporan sebagai Ketua Panitia Pada pembukaan EXPO UKMK Aceh Tamiang malam tadi, 18/10/2015...
Kebetulan juga Manisan spesial "PALAKA TAMIANG" buatan ibu-ibu di Kampung Serong, Tualang Cut, Aceh Tamiang yang sedang di latih Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat di LKP Baroena, Yayasan Baroena Mustika Indonesia di perkenankan untuk tampil di Expo UKMK tgl 18 s/d 21 Oktober 2015 Aceh Tamiang yg pertama tahun ini.

Bagi anda yang ingin merasakan kelezatan manisan PALAKA TAMIANG Produksi LKP Baroena, bisa mendapatkannya di Stand Kecamatan Karang Baru, Stand Kecamatan Manyak Payed dan Stand Disperindagkop di lokasi Expo UKMK di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Tamiang.

Karena Izin Produksi dan Perdagangannya masih dalam proses, maka Manisan yang Lezat dan bervitamin PALAKA ini belum di pasarkan secara massal. Mau cobain Manisan PALAKA Tamiang, Silahkan berkunjung ke tiga buah stand yg menyediakan manisan palaka tersebut diatas.

# Mohon dukungan do'a, pikiran maupun finansial dari kawan2. Agar cita cita Lembaga untuk bisa membangun UKM bagi ibu ibu disekitar lingkungan lembaga dapat terwujud. Bahkan jika ada dana yang memadai, kami juga akan berupaya untuk melatih kewirausahaan ibu2 di kecamatan2 lain yang ada di Aceh Tamiang Regency.... Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin...#


Kamis, 24 September 2015

Pengurus TIM 2012 - 2016

PENGURUS ORGANISASI TINGKAT PUSAT
TAMAN ISKANDAR MUDA PERIODE 2012 – 2016
A. DEWAN PENASEHAT:
1.     Prof. Dr. H. Syamsuddin Mahmud
2.     H. Adnan Ganto
3.     H. T. Safli Didoh
4.     H. Abdul Rachman Ramly
5.     Dr. Ir. H. Mustafa Abubakar, MSi.
6.     H. T. M. Hadi Thayeb
7.     Ir. H. Azwar Abubakar, M.Si.
8.     Dr. Ahmad Farhan Hamid
9.     Jend. TNI (Purn) Surjadi Soedirdja
10.   Drs. Surya Paloh
11.   Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
12.   Prof. Dr. H. Hakim Nya’Pha, SH, DEA.
13.   Dr. Jusman Syafii Djamal
14.   H. Muchtar Arifin, SH.
15.   H. Bachtiar Chamsyah, SE.
16.   Prof. Ir. H. Ismail Sofyan
17.   Drs. H. Salahuddin Nyak Kaoy
18.   Drs. H. M. Asyik Ali
19.   Prof. Ir. H. Ibrahim Abdullah, MA
20.   Prof. Dr. Said Zainal Abidin
21.   Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, MA.
22.   Prof. Dr. Ir. H. M. Hasroel Thayib
23.   Prof. Dr. H. Nazaruddin Syamsuddin
24.   Prof. Dr. Muhammad Ikhsan, Ph.D.
25.   Dr. H. Muchtar Aziz, MA.
26.   Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi
27.   Letjen TNI (Purn) Sofian Effendi
28.   Letjen TNI (Purn) H. Tamlicha Ali
29.   Letjen TNI Mar. (Purn) Safzen Nurdin
30.   T. Hamzah Thayeb
31.   Komjen Pol (Purn) Bachrumsyah Kasman, SH, MM.
32.   Mayjen TNI (Purn) Drs. H. Sulaiman AB, SH, MSc.
33.   Dr. Ir. Abdullah Puteh, M.Si
34.   Ir. H. Tarmizi A. Karim, M.Sc.
35.   Dr. A. Fuad Rahmany
36.   Mayjen TNI (Purn) Djali Yusuf
37.   Marsda TNI (Purn) T. Syahril, MBA.
38.   Mayjen TNI (Purn) H. Ilyas Yusuf
39.   Mayjen TNI (Purn) M. Hatta Syafruddin
40.   Marsda TNI (Purn) Teuku Djohan
41.   Drs. H. Ruslim Hamzah
42.   Drs. Tgk. H. Marzuki A. Ghani
43.   Hj. Ruhama Daoed
44.   Ir. H. M. Nur Gaybita
45.   H. Said Mustafa
46.   Drs. Mahdi A. Hasjmy
47.   H. Ibrahim Pidie
48.   Dr. H. Ibrahim Hasyim, SE, MM.
49.   Ir. Muhayat
50.   Ir. H. Hidayat Nyakman, MM.
B. MAJELIS MUFAKAT
Ketua                      : Mayjen TNI ( Purn ) H. Iskandar Ali
Wakil Ketua           : Drs. T. Untung Juana
Wakil Ketua           : Drs. H. Nasruddin, MSi.
Sekretaris              : Dr. H. R. Anwar Isham, MM.
Wakil Sekretaris   : Drs. Ridwan Ahmad
Anggota               :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
Tgk. A. K. Jacoby
H. Mudji Budiman
H. Sayed Zainal Abidin
Drs. H. Ramly Ganie
H. Rusli Tjut Ahmad
A. Rahman Abbas
Ir. H. T. Zulkarnain Yusuf
H. M. John Sanova
Drs. H. M. Saleh Manaf
H. Zainuddin AG
H. Bustari Mansur
H. Muchtar Yahya, SE, MM.
Ir. H. Masri Asyik
Drs. H. A. Wahab Rachmatsjah
Ir. H. Ramli Dja’afar
Drs. H. Rudy Ch. Lengkong
H. A. Djalil Harun, SH.
Drs. H. Oesman Mar
Drs. H. Hasan Rahmany, MA.
H. Ilyas Ibrahim
Drs. H. A. Malik Raden, MM.
Drs. H. Sayed Usman, SH, MH.
Dr. Ir. H. Ridwan Dereinda, MSc.
Drs. H. M. Yusuf Asry, APU.
Drs. H. M. Djamil Usman
H. Ramli Ibrahim, SE, MM.
H. Mardy Gaharu
H. Muzaffar Daud, MBA.
Drs. H. Syauki Yahya
Ir. H. Mahdi Syahbuddin
Drs. H. Sayuthi Is, MM.
Dr. Fajri Alihar
Ir. H. Fauzi Husin, MM.
Ir. Fauzi Yusuf
Ir. H. Zubir Sahim, MM.
Fuad A. Marzuki
Ir. Jamil Anshary
Sakhyan  Asmara, MSP
T. Muhammad Nurlif  SE,ak
Mayjend TNI (Purn) Amiruddin Syamaun
Mahyudin M. Adan
Yazid Hamzah
H. Harry Cader
Ir. H. Bachtiar Yusuf
T. Usman Yakoub
H. S. H. Alatas
Drs. H. Razali Abdullah
Dr. H. Muhammad Gade, SH, MBA.
Emil Arifin
Amirsyah Risjad
Fenza Sofyan
Dr. Darmawan Ibrahim, MBA.
Irvan Gading
Ir. T. Yuri Maimunsyah Zagloel, MBA.
Ir. Teuku Muda Yusuf
Drs. H. Ramli Harun
H. M. Ramli
Ir. H. Syahabuddin AR
Ir. H. Ibrahim Yahya
Amir Fauzi, M.Sc.
Drs. Rusli Wahid
Drs. H. T. R. Iswandir
Drs. H. T. Ilyas Ibrahim
Cut Dermawan T.O.
H. Ilyas Rasyid
Ir. T. Fakhrudin
Ir. Usman Budiman.
H. Rusli Paloh
Ir. H. Faisal Riza Yoenoes
H. Zainuddin  Daoed
Dr. Nurdin Nyak Basyah, S.Sos, M.Si
Dr. Tgk. H.  Rusli Hasbi, MA.
Drs. H. Said Riswan, MM.
Ir. H. Niazie A. Gani
Drs. Ferry Mursyidan Baldan
Fachry Ali, MA.
Dr. Rizal Sukma
Dr. Rachmat Salam, MSi.
Dr. Umaimah Wahid, MSi.
Ir. Iqbal Hasan Saleh, M.Sc.
Dr. Ifdhal Kasim
Dr. Mulya A. Hasjmy
Dr. Agus Purnomo Syamsudin
Dr. Teuku Faizasyah
Dr. Said Azis, M.Sc.
Teuku Rifky Harsya
Drs. Said Fadil, SH. M.Hum.
Zulfan ZB. Lindan
Christine Hakim
Dr. Munir Fuady, SH., MH., LLM.
Ir. Zurbandi
Ketua dan Sekretaris FORBES DPR RI dan DPD RI Asal Aceh
Kepala Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta
C. PENGURUS PUSAT
1. PENGURUS PUSAT HARIAN
Ketua Umum                : Dr. Ir. Surya Darma, MBA
Wakil Ketua Umum    : Ir. T. Suriansyah  MSi
Wakil Ketua Umum    : H. T. Azwani Sabil
Ketua                             : Dr. Ir. H. Amran Arifin, MM., MBA
Ketua                            : Marwan Cut Hasan, SE.
Ketua                             : Ir. H. Ridwan Nyak Baik, MM
Ketua                             : Ir. Iskandar Zamzami, Dip. Tel, MT
Ketua                             : Hj. Tjut Ellyzar Said Umar Assegaf
Ketua                             : Drs. H. Yusra Huda, MM, Ak.
Ketua                             : Drs H. Arief Jamaluddin, M.Si.
Ketua                             : Drs. Banta Umar B. Alwy
Sekretaris Umum       : Kaharuddin Syah, SH, S.IP., MM, M.Si.
Sekretaris                    : T. Taufiqulhadi
Sekretaris                    : H. Muallim S. Unoe, SH, MH.
Sekretaris                    : Sayuti Abubakar SH.
Sekretaris                    : Ir. H. Imran M. Syam
Sekretaris                    : Alfi Syariati
Sekretaris                    : M. Nasir Yacob
Sekretaris                    : Ir. Fadlullah T.M. Daud
Sekretaris                    : Ismail Bardan SH.
Bendahara Umum      : Dr. H. Sharifuddin Husein, SE, MM, Ak.
Bendahara                   : H. Djamil Hasan, SE
Bendahara                   : H. Ibrahim Wahab
Bendahara                   : Taufiq Firmansyah, SE
2. PENGURUS BADAN
2.1. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK) :
Ketua                                            : Drs. H. Imran Hasyim
Wakil Ketua                                : TM Usman Gamtjut
Sekretaris                                   : H. Rustam Effendi , HAST
Anggota                                      : 
- Muhammad Nazir Suady, SE
- Iskandar Wahab, SE, Ak.
2.2. BADAN AMIL ZAKAT (BAZ)MERANGKAP SEBAGAI UPZ BAZNAS
Ketua                                            : Drs. Tgk. H. Hasyim Syam, MA.
Wakil Ketua merangkap
Bidang Pemberdayaan/Zakat Produktif : Dr. H. Hasan Basri, MA.
Sekretaris                                   : Nururrahmah
Bendahara                                  : Tgk. Asim M. Daoed
Bidang Pengumpulan               : Atiruddin, S.Ag.
Bagian Pembagian                   : Drs. H. Mufakhir Muhammad, MA.
Pengawas                                    : H. T. Rizani Yusuf
2.3.  BADAN PENDAYAGUNAAN ASET TIM
Ketua                                            : Drs. H. Ruthni M. Saleh
Wakil Ketua                                : Ir. H. Zubir Ubit, MM.
Sekretaris                                   : Muhammad Najib Ibrahim, S.Ag
Anggota                                      : Ir. Saiful Bahri
Anggota                                      : Lukman HS
2.4.  BADAN PENGELOLAAN & PENGEMBANGAN WISMA TIM
Ketua                                            : Ir. Dharma A. Hasjmy
Wakil Ketua                                : M. Syahrial Yusuf, SE, MM, MBA.
Sekretaris                                   : Adnan Nyak Nafi
Anggota                                      : 
Drs. Azhari
Fachry Darmawan
Zulkarnaeni Abdullah, SE.
Syamsul Bahri
Ir. Azwar Umar
2.5.  BADAN BANTUAN ADVOKASI ANGGOTA
Ketua                                            : T. Nasrullah  SH, MH
Wakil Ketua                                : Kamaruddin Ismail Puteh, SH
Sekretaris                                   : Denny Arimahesa SH.
Anggota                                      : 
T. Syahrul Ansari SH, MH.
M. Dian, SH
Makmun, SH.
Dr. Otto Syamsudin Ishak
Dr. Ali Hanafiah Selian, SH
Ratna Dwikora, SH
Amiruddin Walad, SH, MH
Arnisa Vonna SH, M.Kn
3. PENGURUS BIDANG
3.1. BIDANG PENDIDIKAN :
Ketua                                : Prof. Dr. Erman Anom
Wakil Ketua                    : Drs. M. Usman, MM.
Anggota                          : 
– Ir. Suhardi Nur
- Ali Bardan
- Hj. Maria Muda Djaafar
- Hj. Sakiah Hidayat Nyakman
- Drs. H. Marzuki TA
- Syarifah Muna Haliza Umar Husin
3.2. BIDANG PEMBERDAYAAN SDM :
Ketua                                : Ir. Fauzi Yusuf
Wakil Ketua                    : T.S. Reza SE, MM
Anggota                          : 
– Ir. T. Suhatsyah.
- Zulkifli Abdullah
- Amran A. Latief, SE, MBA
- Nasrussalam Zakaria, SE.
- Ir. Drs. A. Wahab Ahmad
3.3. BIDANG PENDANAAN :
Ketua                                 : Ir. Mawardi Noor Mahmud
Wakil Ketua                     : Ismail Rasyid, SE
Anggota                            : 
– H. Jamal Suni Salim, SE, MM
- Naser Abdullah, SE
- Ir. Azhar Ibrahim, MT
- Dra. Sri Nova Kandi
- Saiful Una, SE
- H. Armia Arco, SE.
- Syarifah Nuly Nazlia
3.4. BIDANG PENGEMBANGAN USAHA :
Ketua                                 : Drs. Muhajir Abdurahman, SE
Wakil Ketua                     : Drs. Bachtiar Gade, Apth
Anggota                            : 
– Masdar Mansyur SE.
- Mahdi Abdullah, SE, Akt.
- H. Ayub Meulila Abdy
- Azhari Maiva
- Ir. Zulfahri Usman, M.Kes
- Muh. Riza Akbar
3.5. BIDANG INFORMASI :
Ketua                                : Dr. TB. Massa Djafar
Wakil Ketua                    : Ir. Fikar  W. Eda
Anggota                          : 
– Fauzi Saidy
- Drs. Badrul Bahar
- Syahrul Arifin, S.Sos.
- Izzu Farhan Fajri, ST.
- Khairul Alira
- Azhar Tjut Abiet
- Fuad El Radhy
3.6. BIDANG KOMUNIKASI ORMAS dan PEMERINTAH:
Ketua                                : Ir. H. Muslim Armas
Wakil Ketua                    : Mashudi S.R
Anggota                           : 
- Zulkifli A. Jalil, SE, MM.
- Drs. Zulkifli Rasyid , MM, MA
- Herry Iskandar, SE.
- Noval Dwi Putra, SH
- Sayed Rulam Fauzi
- Drs. Faisal Halimi
- Afifuddin
- Yunidar ZA, MSi.
3.7. BIDANG PEMBERDAYAAN EKONOMI  :                                                             
Ketua                                : Ir. T. Fauzi  M.Agr.
Wakil Ketua                    : – H. Yusrizal Abdullah, SH
Anggota                          : 
- Hj. Nur Asiah Rudy Lengkong
- Hamidi Hasyim SE, M.Sc
- Marmizi
- Irwansyah
- Abdul Azis
- Hj. Asniaty Syaufi, MPd
- Ismet Fakhrudin
- Irwansyah, SE
3.8. BIDANG SOSIAL :                                                                                                          
Ketua                                : Kombes Pol (Purn) Arifin Zein
Wakil Ketua                    : dr. Syarbini Murad
Anggota                          :  
- H. M. Yunus Bayak, S.Ag
- M. Yunus Amin
- Zulkifli Zainal
- Zulman Syahri
- M. Zaini Jauhari
- Muakhir Hasan
- Tarmizi, SE
- H. Rustam Djam
- Fadli  Saldi, S.Kom
- Iwan Rahmat, S. Sos.
- M. Nur A.R
- Sulaiman Hasan
3.9. BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN:
Ketua                                : Hj. Mutia Azwar AB
Wakil Ketua                    : Hj. Ferry Soraya Farhan
Anggota                          : 
- Hj. Yusniar Nabhani Darwin
- Hj. Gina John Sanova
- Hj. Nani Iskandar Ali
- Hj. Nelly Afianti
  - Hj. Sjarifah Nurmala
- Hj. Etty Ayub
- Hj. Anita Farial Fuad
- Hj. Maryani Ramli
- Hj. Soraya A. Marzuki
- Hj. Nasriati Aminullah
- Hj. Asti Azwani
- Ir. Cut Putri Alyanur
3.10. BIDANG PEMBINAAN REMAJA DAN ANAK-ANAK:
Ketua                              : Hj. Inayati Tarmizi
Wakil Ketua                  : Dra. Hj. Elly Risman
Anggota                         : 
- Hj. Orida Abidin Adiwijaya
- Hj. Ny. Ros Marwan Cut Hasan
- Hj. Ida Bazar
- Hj. Ny. Netty Ramli
- Hj. Mawaddah Muhajir
- Hj. Dewi Zubir Sahim
- Ir. Hj. Yanti A. Marzuki
- Hj. Ida Sayuti
- Hj. Ny. Ros Iskandar P.Polem
- Ir. Hj. Cut Lia Thahir
3.11. BIDANG AGAMA :
Ketua                              :  Drs. Tgk. Marhaban Abubakar
Wakil Ketua                  :  Drs. Razali Hasman
Anggota                         : 
- H. Muarrif Abbas, SH.
- Drs. H. Mustafa Harun
- Drs. M. Nasir AR
- H. Syamsul Al Fathan
- Tgk HM. Nasir
- Tgk. Asnawi
- Tgk. Razali Abdullah
- Drs. H. Syahrial Kadir
- Tgk. Amin Yusuf
- Tgk. Jalaluddin
3.12. BIDANG PEMUDA DAN OLAHRAGA :
Ketua                              : Muslim SH
Wakil Ketua                  : Iswanda Rasyid, SH.
Anggota                          :  
- Sayed Muhammad Mulyadi
- Ir. Taufiq
- Fitriani Ismail
- Syahyan Usman
- Zurrahmi
- Hidayatullah
- Syarifuddin Ali
- Yasir Fadil
- Syarifah Dewi Maya
- T. Nausa
3.13. BIDANG KEBUDAYAAN :
Ketua                                : Hj. Pocut Haslinda Syahrul
Wakil Ketua                    : H. Marzuki Hasan
Anggota                          : 
- Hj. Cut Yohasmi Ilyas
- Hj. Nurhefti Dewita Sukma
- H. Syamsuddin Hasan
- Hj. Diah Syarifuddin
- Agus Nuramal
- Sarjef
- T. Saiful Sajak
 -  Akmal Abdul Karim
- Hamdani Ali
- Syarifuddin
- Hj. Cut Elly Arbi