Sabtu, 02 Januari 2016

Riwayat Perjuangan Din Minimi dalam GAM

NAMA Din Minimi atau Abu Minimi menjadi sorotan berbagai pihak dalam beberapa bulan  terakhir. Itu terjadi setelah ia muncul di koran dengan memamerkan senjata api laras panjang, hal yang terlarang dalam undang-undang. 
Polisi sudah sejak setahun lalu memburunya lantaran ia dan kelompoknya terlibat sejumlah aksi kriminal seperti perampokan, pemerasan, dan penculikan. Maka bertumpuklah kesalahan Din Minimi di mata aparat penegak hukum. Itu sebabnya, bagi polisi, Din Minimi adalah burunon yang harus ditangkap. 
Kepala Humas Polda Aceh, Kombes Gustav Leo, mengonfirmasi Polda Aceh telah membentuk tim khusus dan sedang bergerak ke lapangan mengejar Din Minimi dan kelompoknya. 
Saat ini, katanya, tim yang dibentuk Polda Aceh mengepung dan mencari keberadaan kelompok Abu Minimi sudah bekerja di lapangan.
“Pelanggaran yang dilakukan oleh Din Minimi harus dipertanggungjawabkan secara hukum,” katanya.
Di lain sisi, Din Minimi adalah pribadi yang kompleks. Hidupnya berkalang derita. Keluarganya sudah terlibat di GAM sejak awal gerakan itu didirikan pada 1976. 
Sumber Atjeh Pusaka menuturkan, nama Minimi yang melekat di belakang namanya adalah warisan dari sang ayah yang dikenal dengan nama Ayah Minimi. 
“Di rumah Ayah Minimi di Geudong Pase diadakan rapat pertama perjuangan GAM (di wilayah Pase) pada masa silam,” kata sumber Atjeh Pusaka yang menolak namanya ditulis. 
Konon, Ayah Minimi pernah ditembak dengan senjata minimi, namun tidak tembus lantaran memiliki ilmu kebal. Itulah sebabnya, rekan-rekannya memanggilnya Ayah Minimi.
Namun petulangan Ayah Minimi berakhir setelah terjaring sweeping aparat keamanan di kawasan Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktya, Aceh Utara, pada masa konflik bersenjata.
Sumber itu menyebutkan, sejak saat itu Ayah Minimi hilang. Sumber lain menyebutkan, setelah terjaring razia, Ayah Minimi digilas dengan kenderaan hingga tewas.
Menurut sumber itu, Nurdin alias Abu Minimi lahir di Julok, Aceh Timur. Dia memang mantan kombatan. Terakhir pada masa awal damai Aceh, Abu Minimi pernah pulang ke Geudong Pase, rumah orang tuanya.
Selain ayahnya, Din Minimi juga kehilangan dua adiknya. Seorang adiknya tewas dalam pertempuran antara GAM dan TNI pada 2004. Sedangkan adiknya satu lagi hilang masa konflik. Hingga kini, ia tak tahu adiknya masih hidup atau mati. 
Dari seorang sumber lain di organisasi tempat berhimpunnya mantan kombatan GAM, Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Timur, diperoleh konfirmasi Din Minimi resmi masuk GAM sejak 1997. Ia mengikuti jejak ayahnya di masa lalu.
"Beutoi, gobnyan pernah jeuet keu anggota KPA. Tapi kemudian memisahkan droe karena kleuet bacut(Benar, dia pernah jadi anggota KPA, tapi kemudian memisahkan diri karena agar liar," kata sumber yang lagi-lagi menolak namanya ditulis. 
Di mata sumber ini, Din adalah pribadi yang pendiam, tapi bertempramen tinggi. Keterangan sumber itu juga dibenarkan oleh seorang pengurus KPA pusat. 
Penelusuran Atjeh Pusaka dari sumber lain menyebutkan Din Minimi berselisih paham dengan pengurus KPA lain saat Pilkada 2012. Saat itu, KPA mengusung pasangan pimpinan GAM Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Sementara Din Minimi merapat ke Muhammad Nazar, mantan Wagub Aceh yang maju ke gelanggang pemilihan gubernur pada 2012. 
Sejak itu, Din memilih jalannya sendiri. Lama menghilang, namanya kemudian dikaitkan dengan sejumlah tindak kriminal di Aceh Timur. 
Hingga kemudian ia membuat heboh dengan muncul di koran dan melontarkan kritik pedas terhadap Pemerintah Aceh yang sebenarnya adalah pemimpinnya di masa perang melawan Pemerintah Pusat yang dinilai telah berlaku tidak adil terhadap Aceh. 
Dengan rekam jejak keluarganya di masa lalu, kehilangan ayah dan dua adiknya dalam membela GAM, mungkinkah tindakan Din mengobarkan pemberontakan dipicu rasa kecewa yang teramat dalam terhadap mantan pemimpinnya? 
"Kami siap melawan pemimpin Aceh dengan cara apapun, karena mereka sudah tidak lagi amanah. Banyak mantan kombatan GAM, janda, dan anak yatim akibat konflik saat ini hidup memprihatinkan," kata Din ketika bertemu sejumlah wartawan di lokasi persembunyiannya. 
Menariknya, Din mengaku siap kembali jika pemerintah memenuhi permintaannya. Ia pun siap menyerahkan senjata. 
“Kamoe akan melawan pemerintah sampoe darah kamoe abeh. Tapi bila pemerintah geupeunuhi yang kamoe lakee, kamoe pih siap kembali, dan senjata kamoe jok keu yang berhak atawa polisi,” (Kami akan melawan pemerintah sampai darah kami habis. Namun bila tuntutan kami dikabulkan, kami kembali ke masyarakat dan senjata kami serahkan ke aparat polisi),” ujar Nurdin.
Pernyataan itu tampaknya memberi harapan bagi Pemerintah Aceh untuk kembali merangkul Din Minimi. Tapi di sisi lain, polisi tentu tak bisa kompromi dengan aksi kriminal yang diakui Din dilakukan bersama kelompoknya. 
Anggota DPR Aceh dari Partai Aceh, Abdullah Saleh, melihat aksi Din Minimi berada di ranah kriminal dan himpitan ekonomi. 
Itu sebabnya, Abdullah Saleh meminta Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan semua pihak termasuk aparat penegak hukum. "Jika bisa diberi pengertian, pemahaman dan pendekatan, coba dilakukan. Tapi dilihat arahnya kemana. Kalau lebih ke kriminal, ya yang bisa dilakukan adalah pendekatan secara hukum," katanya. 
Selain itu, Abdullah Saleh juga melihat ada motif ekonomi dibalik aksi Din Minimi. "Jika berbicara kesejahteraan atau hidup layak, bukan hanya eks kombatan, tapi seluruh rakyat mengalaminya," katanya. 
Sementara itu, muncul pula suara-suara yang meminta agar Pemerintah Aceh melakukan introspeksi. 
"Harus disadari bahwa munculnya Din Minimi dan kelompok bersejata lain tidak terlepas dari kondisi perekonomian Aceh yang semakin sulit," kata T. Syaifuddin, SH, Sekretaris LSM ADAS Institute Aceh.
Itu sebabnya, kata Popon (panggilan akrab sang pengacara), Pemerintah Aceh harus menyikapinya dengan bijaksana. Menurutnya,  munculnya kelompok bersenjata di tengah situasi Aceh yang sedang damai tidak terlepas dari pola distribusi sumberdaya terbatas pada sekelompok orang, terutama mereka yang berasal dari lingkaran keluarga pucuk pimpinan di Pemerintah Aceh.
"Azas kekeluargaan sangat tinggi. Hanya keluarga dan kolega tertentu yang menikmati kesejahteraan dari pemerintah saat ini” kata Popon.
Itu sebabnya, Popon berharap Pemerintah Aceh segera berbenah sebelum muncul kelompok lain yang mengekspresikan rasa tidak puas dengan caranya sendiri.
“Gerakan Abu Minimi ini tidak boleh dihadapi dengan senjata atau kekerasan, karena masyarakat Aceh sudah jenuh dan bosan dengan konflik. Karena itu, buka ruang komunikasi kepada kelompok Din Minimi sehingga menemukan kesepakatan bersama, mereka juga masyarakat Aceh,” harap T. Syaifuddin, SH yang juga seorang Pengacara di LBH Gajah Puteh.
Harapan serupa juga datang mantan Wagub Aceh, Muhammad Nazar. Nazar menyarankan Pemerintah Aceh membuka ruang diskusi yang baik dengan kelompok Abu Minimi agar keinginan mereka tercapai. “Pemerintah bisa memanfaatkan sejumlah LSM yang memang dekat dengan Abu Minimi sebagai jembatan komunikasi dengan kelompok tersebut,” ujarnya.
Menurutnya dengan adanya komunikasi yang baik, akar persoalan munculnya kelompok tersebut didapati dan ditindaklanjuti dengan kedewasaan. Sehingga, katanya, tidak ada perpecahan di kalangan masyarakat Aceh. 
Sementara itu, seperti kata Humas Polda Aceh Gustav Leo, di lapangan, polisi sedang bergerak memburunya.

Kronologi Penyerahan Diri Din Minimi
Aceh Utara - Pentolan kelompok bersenjata Nurdin Ismail alias Din Minimi akhirnya menyerah dan menyudahi perlawanannya kepada pemerintah Indonesia.
Din Minimi menyerah setelah Kepala Badan Itelijen Negara (BIN) melakukan negosiasi yang panjang dengan gerakan separitisme tersebut.
Berdasarkan informasi, tim gabungan yang dimpimpin oleh Kepala BIN Sutiyoso bergerak melakukan penjemputan ke Din Minimi dan bersama kelompoknya pada, Senin 28 Desember 2015 kemarin.
Dalam kesempatan itu, Sutiyoso didampingi olehDeputi II BIN Mayjen TNI Thamrin, Direktur 23, Brigjen TNI Zulfazdi Juni, dan perwakilan dari Aceh Monitoring Mission (AMM) Christensen.
Rincian rangkaian kegiatan penjemputan tim sipil bersenjata Din Minimi adalah sebagai berikut:
1. Selasa, 28 Desember 2015, tim yang dipimpin oleh Kepala BIN Sutiyoso, bertolak di Desa. Keude Mesjid Bagok Kecamatan Nurussalam Kabupaten Atim, dengan menggunakan beberapa unit mobil diantaranya jenis Pajero Sport warna putih, Double Cabin Hilux warna hitam, Toyota  Fortuner warna hitam bertemu dengan Din Minimi dan juga kelompoknya.
2. Kemudian, tim beserta kelompok Din Minimi sekira 20 orang d
ibawa menggunakan dua unit kendaraan untuk bergerak dari lokasi penjemputan melalui jalan Medan, Aceh menuju ke arah Kecamatan Julok Kabupaten Atim.
3. Setelah tiba di Kecamatan Julok, dua unit mobil yang ditumpangi oleh Deputi 2 Bin dan Direktur 23 beristirahat diii Koramil Julok, sedangkan mobil yang membawa Sutiyoso dan Din Minimi beserta seluruh anggotanya langsung menuju ke rumah orang tua Din Minimi di Desa Ladang Baroe Kecamatan Julok Kabupaten Atim.
4. Kemudian, rombongan yang dipimpimpin oleh Sutiyoso beserta kelompok Din Minimi melaksanakan kegiatan doa bersama dan syukuran bertempat di rumah orang tua Din Minimi di Desa Ladang Baroe, Kecamatan Julok, Kabupaten Atim yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat dan dihadiri masyarakat dari Desa Ladang Baroe dan Desa Bukit Panjang yang berjumlah sekira 120 orang.
5. Atas pertemuan itu akhirnya Kepala BIN Sutiyoso dan kelompok Din Minimi memutuskan untuk menginap dan bermalam di rumah orang tua Dini Minimi, selanjutnya direncanakan besok pagi tanggal, Selasa 29 Desember 2015 rombongan yang dipimpin oleh Sutiyoso bersama dengan Din Minimi akan berangkat menuju ke Kota Lhokseumawe.
6. Dalam negosiasi tersebut, berdasarkan informasi tidak ada personil TNI ataupun Polri maupun wartawan yang memasuki lokasi rumah orang tua Din Minimi utk melakukan pemantauan ataupun peliputan giat tersebut.
7. Saat bergerak melintas di jalan dari lokasi penjemputan menuju ke Desa Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Atim, anggota kelompok Din Minimi sempat mengibarkan Bendera Bintang Bulan dan mengeluarkan kata kalimat merdeka. (ADR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.