Rabu, 20 Januari 2016

Kesultanan Lamuri

Data tentang sejarah berdirinya Kesultanan Lamuri masih simpang siur. Data yang pernah dikemukakan sejumlah orang tentang kesultanan ini masih bersifat spekulatif dan tentatif. Tulisan ini masih sangat sederhana dan bersifat sementara karena keterbatasan data yang diperoleh.
Secara umum, data tentang kesultanan ini didasarkan pada berita-berita dari luar, seperti yang dikemukakan oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut asing (Arab, India, dan Cina) sebelum tahun 1500 M. Di samping itu, ada beberapa sumber lokal, seperti Hikayat Melayu dan Hikayat Atjeh, yang dapat dijadikan rujukan tentang keberadaan kesultanan ini.
Data tentang lokasi kesultanan ini juga masih menjadi perdebatan. W. P. Groeneveldt, seorang ahli sejarah Belanda, menyebut bahwa kesultanan ini terletak di sudut sebelah barat laut Pulau Sumatera, kini tepatnya berada di Kabupaten Aceh Besar. Ahli sejarah lainnya, H. Ylue menyebut bahwa Lambri atau Lamuri merupakan suatu tempat yang pernah disinggahi pertama kali oleh para pedagang dan pelaut dari Arab dan India. Menurut pandangan seorang pengembara dan penulis asing, Tome Pires, letak Kesultanan Lamuri adalah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Artinya, wilayah Kesultanan Lamuri meluas dari pantai hingga ke daerah pedalaman.

Sabtu, 16 Januari 2016

Beberapa Pejuang GAM Yang Paling Ditakuti Prajurit Indonesia


Atjeh Pusaka - Setelah deklarasi Aceh Merdeka oleh Teungku Hasan di Tiro di Gunung Halimon, Pidie pada 4 Desember 1976, kita cukup banyak mendengar cerita-cerita heroik pejuang Gerakan Aceh Merdeka. Kita mendengar cerita tentang keberanian, kebal peluru dan ilmu bisa menghilang.

Keahlian ini yang membuat mereka sangat ditakuti oleh TNI dan disegani oleh masyarakat. Untuk mereka para pejuang GAM ini, masyarakat menyebutnya sebagai awak ateuh atau orang dari gunung, yang menunjukkan para pejuang GAM ini bergerilya di hutan-hutan Aceh. Ini beberapa pejuang yang namanya sempat berkibar di Aceh dan sangat dicari oleh aparat keamanan.

Abdullah Syafi'i

Tgk. Abdullah Syafi'i, lebih dikenal dengan nama Teungku Lah (lahir di BireunAceh12 Oktober 1947 – meninggal di Pidie JayaAceh22 Januari 2002 pada umur 54 tahun) adalah tokoh pejuang GAM. Dia pernah menjabat sebagai Panglima Gerakan Aceh Merdeka.

Teungku Abdullah Syafie atau Teungku Lah adalah Panglima GAM yang sangat karismatik, disegani kawan dan ditakuti lawan. Di kalangan pasukannya Teungku Lah dikenal sangat tegas namun sopan. Ia juga santun dan bersahaja. Teungku Lah adalah pemimpin sayap militer GAM. Dia pernah menjabat sebagai Panglima GAM Wilayah Pidie, dan terakhir sebagai Panglima Gerakan Aceh Merdeka seluruh Sumatera. Konon, lebih 20 tahun Teungku Lah memimpin gerilyawan GAM di kawasan Bireuen.

Teungku Lah tidak mendapat pendidikan militer di Libya, seperti Arjuna atau Ahmad Kandang. Inilah yang membuatnya tidak begitu suka dengan penggunaan kekerasan dalam berjuang. Kekuatan senjata hanya untuk mempertahankan diri. Hal ini pula yang membuat Teungku Lah sangat dihormati oleh tentara musuh. 

Teungku Lah lahir di Desa Matang geulumpang Dua, Bireuen. Ia hanya sempat bersekolah hingga kelas tiga di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan. Keluar dari sekolah tersebut, Teungku Lah memilih belajar agama di sejumlah Pesantren di Aceh. Teungku Lah mulai terlibat GAM pada awal 1980 (ada juga kabar yang menyebutkan, Teungku Lah bergabung dengan GAM sehari setelah Hasan Tiro memproklamirkan GAM di Gunong Halimon).

Sebenarnya, masa muda Teungku Lah termasuk unik. Ia banyak terlihat dalam dunia teater bersama group Jeumpa. Sangat jauh dari kesan militer. Tetapi, belakangan, hal ini sangat membantu Teungku Lah dalam hal penyamaran. Mobilitas Teungku Lah tak terdeteksi. Orang Aceh menyebut Teungku Lah punya ileume peurabon (ilmu bisa menghilangkan diri). Teungku Abdullah Syafie meninggal dunia pada 22 Januari 2002 di Jiem-Jiem, Bandar Baru, Pidie dalam sebuah penyergapan oleh TNI. Sang istri dan lima pasukannya ikut syahid dalam penyerangan tersebut.

Sebelum meninggal, Teungku pernah membuat wasiat, “Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri ini (Aceh) merdeka”
Tgk Abdullah Syafii
Surya Darma alias Robert

Tahun 90-an, Surya Darma atau Robert sangat terkenal di Aceh. Dia pejuang GAM yang sangat ditakuti dan diburu oleh aparat keamanan saat itu. Foto-fotonya bersama para pejuang GAM lainnya begitu mudah kita temukan di pos kamling. Dia gencar beraksi pada 1989-1992 di kawasan Aceh Timur dan Aceh Utara.
Tapi, siapa sebenarnya Robert? Dia merupakan putra Minang asli, yang lahir di Lampaseh, Banda Aceh, dengan nama Surya Darma. Pada tahun 1985, prajurit satu dari Batalyon 113 Kota Bakti, Pidie ini pernah dikirim oleh kesatuannya ke Timor Timur (kini Timur Leste) untuk memerangi pasukan Fretelin. 

Konon, sepulang dari Timor Timur, Robert membuat ulah memukul anggota Polisi Militer saat nonton di Bioskop Beringin. Atas ulahnya tersebut, Robert dihukum oleh komandannya dan sempat dititipkan di LP Sigli. Setahun kemudian, Robert kembali membuat heboh dengan membobol kas berisi uang kontan bernilai ratusan juta rupiah milik PT Arun. Karena terus bikin ulah, Robert akhirnya dikeluarkan dari dinas militer. 

Sejak lama Robert bersimpati pada perjuangan GAM. Ketika ditahan bersama tahanan GAM di sebuah sel di Batalyon 113 Kota Bakti, Robert melihat para pejuang GAM tetap Salat walau di penjara. “ABRI yang digaji pemerintah malah berjudi, minum minuman keras. Sejak itu saya tertarik dan terlibat dalam GAM. Banyak anggota ABRI juga bersimpati pada GAM,” kata Robert dalam sebuah wawancara dengan Majalah Forum Keadilan, 11 Januari 1999. 

Suatu kali, setelah memukul seorang Camat di Batee, Pidie, Robert bersama Arjuna berhasil meloloskan diri dari kejaran aparat. Dia pun memilih lari ke Malaysia. Pada Tahun 1993, Robert dihukum mati secara in absentia oleh Pengadilan Negeri Lhokseumawe. 

Arjuna 

Selain Robert, pejuang GAM yang namanya berkibar antara tahun 1989-1992 adalah Arjuna. Beda dengan Robert, Arjuna adalah eks Libya (1988-1989), dan dikenal sangat berani serta ahli merancang serangan. Dia pun termasuk intelektual GAM, jebolan dari Fakultar Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala. Tak heran, setahun setelah bergabung dengan GAM, Arjuna dipercaya menjadi komandan pasukan GAM Wilayah Pidie. 
Arjuna termasuk angkatan terakhir (1989/1990) yang dikirim berlatih militer ke Libya bersama Ahmad Kandang. Sementara angkatan pertama yang berlatih di Libya yaitu Muzakkir Manaf juga Ismail Syahputra, juru bicara ASNLF GAM yang diculik di Medan. 

Di dalam pasukan GAM, Arjuna dikenal dengan nama Rambo, tokoh film Hollywood dalam perang Vietnam. Ini wajar karena lelaki brewok ini sangat lihat dalam taktik perang gerilya. Dia masuk list aktivis GAM yang paling diburu aparat keamanan. Merasa tak aman terus berada di Aceh setelah terlibat pemukulan seorang Camat di Batee, Pidie, Arjuna meloloskan diri ke Malaysia tahun 1992. Di sana ia bekerja serabutan. 

Terakhir pada 1997, dia pulang ke Aceh. Ia masuk lewat Pelabuhan Peureulak Aceh Timur yang relatif sepi dari ingar bingar pergolakan. Ia kembali ke Bireuen sebentar, dan selanjutnya hijrah ke Bekasi. Ia memilih menjadi pedagang kelontong dan sayuran di Pasar Bekasi. Garis perjuangannya pun melunak. Terakhir ketika pulang ke Bireuen sekitar tahun 2001, Arjuna dieksekusi. Konon dilakukan oleh gerakan yang dulu pernah dibelanya.

Ahmad Kandang

Nama aslinya Muhammad Rasyid. Tapi dia lebih dikenal dengan nama Ahmad Kandang. Pasalnya, ia lahir dan tinggal di Desa Meunasah Blang Kandang, Muara Dua, Aceh Utara. 
Akhir Desember 1998, Ahmad Kandang menjadi pentolan GAM paling dicari aparat keamanan. Ia dituding sebagai dalang pembunuhan sejumlah anggota ABRI. Hal itu pula yang mendorong ABRI (kini TNI) melancarkan Operasi Wibawa ’99 yang menjadikan Aceh sebagai medan perang. Sebagai operator lapangan, tak mudah bagi TNI menangkap Ahmad Kandang. Ia dilindungi oleh pasukan dan masyarakat Kandang. 

Ahmad Kandang dikenal sebagai Robinhood-nya Aceh. Pelaku utama pembobolan Bank Central Asia (BCA) Lhokseumawe pada Februari 1997 ini sangat dicintai masyarakat. Ia sering membagi rezeki kepada penduduk di kampungnya. Ini pula yang membuatnya selalu dijaga oleh masyarakat. 
Pada pertengahan November 1998, misalnya, saat sepasukan Brimob telah mengepung rumah Ahmad Kandang, mereka tak berani menembak panglima GAM Pasee tersebut karena di dalam rumah tempat persembunyiaan Ahmad ada ibu dan bayi. Warga bahkan membentuk pagar betis untuk melindunginya. Kesempatan itu digunakan oleh pejuang ini untuk kabur dan melarikan diri. 

Ahmad Kandang dikenal ahli perakit bom. Banyak bom yang dipasang untuk menghadang laju operasi TNI dibuat olehnya. Tapi, nasibnya tragis, karena dia meninggal karena bom yang dirakitnya meledak. Padahal, bom itu dia siapkan untuk menghadang iring-iringan TNI. 
Ahmad Kandang
Ishak Daud

Selain Ahmad Kandang, nama tokoh GAM yang juga paling diburu aparat keamanan adalah Teungku Ishak bin Muhammad Daud atau lebih dikenal dengan Ishak Daud. Penglima GAM Wilayah Peureulak ini punya postur tubuh tinggi-tegap. Wajahnya juga ganteng dan mirip bintang film India. 
Ishak lahir di Desa Blang Glumpang Kuala Idie, Kecamatan Idie Rayeuk, Aceh Timur pada 12 Januari 1960. Ia adalah anak pertama dari pasangan Muhammad Daud bin Tengku Basyah dan Nuriah. Semasa kecil, Ishak tinggal di lingkungan desa yang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya bekerja sebagai nelayan sedang ibunya berjualan kue. 

Merasa tidak pernah puas dengan kondisi itu, pada awal tahun 1984, pada usia 24 tahun, Ishak memutuskan merantau ke Malaysia. Di negeri jiran itu, Ishak Daud bekerja serampangan, sebagai kuli bangunan atau penjaga restoran. Karena tak tahan hidup seperti itu di Malaysia, Ishak Daud memutuskan merantau ke Singapore. Apalagi banyak orang Aceh di negeri singa itu.

Sama seperti di Malaysia, Ishak Daud juga bekerja serabutan, dari buruh bangunan hingga sopir angkutan. Di Singapore pula Ishak Daud mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka, apalagi saat itu banyak aktivis Aceh Merdeka menggelar pertemuan politik. Praktis, selama bekerja di Singapore Ishak sering mengikuti pertemuan tersebut. Ini pula yang membuka wawasannya tentang sejarah Aceh. 

Pada Juni 1987, Ishak akhirnya disumpah oleh Tengku Abdullah Musa sebagai anggota GAM. Apalagi Hasan Tiro yang mengendalikan GAM dari Swedia butuh pemuda Aceh untuk dididik pendidikan militer dan dikirim ke Libya. Ishak Daud termasuk dalam rombongan 40 orang pemuda Aceh yang dikirim ke Libya.  Sepulang dari Libya, Ishak Daud singgah di Singapore. Hanya 12 hari di sana, Ishak Daud pun memutuskan pulang ke Aceh melalui Pelabuhan Tanjung Balai. Dari sana ia naik bus dan kembali ke kampung halamannya di Idi Rayeuk. Awalnya dia bekerja sebagai pedagang Ikan dan diam-diam merekrut pemuda untuk terlibat GAM. 

Ishak termasuk tokoh pertama yang mengibarkan bendera Aceh Merdeka di SMA Idi Rayeuk, Aceh Timur pada 4 Desember 1989 setelah pengibaran bendera di Gunung Halimun, Pidie, yang dilakukan Hasan Tiro pada 4 Desember 1976. 

Pada 20 Mei 1990, Ishak Daud menyerang pos ABRI di Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Dalam penyerangan itu, dua tentara dan seorang pelajar SMP meninggal. Kelompok Ishak Daud juga berhasil mengambil 22 pucuk senjata M-16 dan senjata jenis Minimi. Untuk ulahnya tersebut, Ishak Daud divonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Lhokseumawe. Sidangnya digelar di Sabang karena dalam beberapa persidangan sebelumnya, Ishak Daud selalu dielu-elukan oleh simpatisannya. Saat itu, Ishak disebut-sebut sebagai Kepala Biro Penerangan Aceh Merdeka. 

Namun, Ishak Daud hanya sempat menjalani hukuman dua tahun saja, karena pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, 21 Mei 2000, Ishak Daud dibebaskan. Ishak memutuskan kembali bergabung dengan GAM, posisi terakhirnya sebagai Panglima GAM Wilayah Peureulak-Teumieng. Ishak meninggal dalam sebuah penyergapan oleh TNI pada akhir tahun 2003.
Ishak Daud
Abu Arafah 

Teungku Abdul Meuthalib atau yang lebih terkenal dengan Abu Arafah adalah Panglima GAM Wilayah Meureuhom Daya. Wilayah operasional GAM Meureuhom Daya dalam struktur wilayah Gerakan Aceh Merdeka meliputi Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, hingga Arongan, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. 

Abu Arafah dikenal militan karena sering kali menyerang patroli TNI di Gunung Geureutee, Aceh Jaya. Dia sering-kali mengultimatun pasukan TNI agar tidak melintasi wilayah kekuasaannya, mulai dari Lhoong, Aceh Besar hingga Arongan. Setiap penyerangan yang terjadi terhadap TNI di lintasan pegunungan itu diklaim dilakukan oleh pihaknya. Suatu kali, pasukannya menyerang pasukan pengamanan bahan logistik TNI BKO Kecamatan Jaya yang mengakibatkan Prada Suprianto, anggota TNI dari Kesatuan 320/Siliwangi luka parah. 

"Kita memang mempersiapkan serangan itu, untuk mengingatkan mereka agar jangan menakali masyarakat," kata Arafah kepada media ketika itu. 

Abu Arafah juga mengajak TNI berperang secara terbuka dengan pasukannya. Pasalnya, setiap selesai kontak senjata dengan GAM, aparat TNI/Polri sering menyiksa masyarakat. Namun, ajakan perang tersebut mendapat larangan dari ulama, apalagi seruan tersebut dilakukan pada bulan Ramadhan. Para ulama cemas, karena Abu Arafah mengancam akan menyerang pos TNI jika tak mau meladeni ajakan berperang di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. 

"Kami menghormati dan menghargai imbauan ulama dan tokoh masyarakat itu sepanjang pihak TNI/Polri tidak mengganggu dan menindak masyarakat secara kasar," kata juru bicara AGAM Wilayah Meureuhom Daya, Abu Tausi, mewakili Abu Arafah.

Abu Arafah meninggal dunia dalam kontak senjata dengan pasukan TNI di Aceh Jaya, pada 10 Oktober 2002. Panglima legendaris GAM Meureuhom Daya ini dikebumikan di kampung halamannya, Krueng Tunong, pada Jumat (11/10/2002) sore.

Sekalipun Abu Arafah meninggal, namun GAM Wilayah Meureuhom Daya tetap menyembunyikan informasi meninggalnya panglima yang sangat mereka hormati itu. Hal ini dilakukan agar tidak meruntuhkan mental para pasukan di lapangan. 
Abu Arafah
Saiful alias Cagee 

Amiruddin atau Saiful alias Cagee bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka pada tahun 1998. Ketertarikannya bergabung dengan GAM setelah berkenalan dengan Mirik, Saiful alias Cage masih sebagai prajurit biasa di kamp 09 (kosong sikureung) Palu Beueh Awee Geutah. Saat itu, petinggi GAM di kawasan itu adalah Husaini Franco, Razali dan beberapa orang lainnya. Sekali pun masih baru dalam GAM, Cagee sudah dikenal sangat berani dan nekat. 

Cagee menjadi komandan operasi khusus pada tahun 2002, karena sangat senang bertempur. Pasukan ini dibentuk tahun 2001 oleh GAM Daerah III Batee Iliek. Pada tahun 2002 pula, Cagee membentuk kamp Gurkha di Gampong Darul Aman, Peusangan Selatan. Tapi karena kondisi makin genting, dia memecah pasukannya menjadi tujuh regu, dua di antaranya bernama regu Singa Bate (dengan komandannya Mirik) dan regu Geubina yang dikomandani oleh Obeng. Setelah CoHA, Cagee menyatukan kembali pasukannya di Gurkha, agar pasukan GAM tidak tersebar-sebar.  

Cagee yang dikenal pemberani ini pernah membanting stempel KPA Wilayah Bireuen di hadapan para petinggi GAM setelah mengusung Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2012. Entah karena sikapnya tersebut, pada Jumat (22/07/12) Cagee ditembak mati di depan tokonya, Gurkha, di Matang geulumpang Dua, Bireuen. 
Saiful Alias Cage

Selain nama-nama di atas, sebenarnya, masih cukup banyak pejuang GAM yang legendaris dan ditakuti oleh TNI, seperti Ayah Muni (panglima operasi wilayah GAM Aceh Besar), Abu Hendon, panglima GAM Wilayah Deli yang meledakkan bom di kota Medan, atau Keuchik Umar, panglima GAM di Pidie. Ada juga Udin Cobra, komandan operasi GAM di Pidie yang dikenal sangat jago taekwondo, Pawang Rasyid yang namanya sangat dikenal di kawasan Geumpang dan Tangse, Rahman Paloh di Pasee yang pernah menembak pesawat tempur TNI dari pucuk pohon kelapa, Teungku Bari, komandan operasi GAM Batee Iliek, dan masih banyak lagi. Mudah-mudahan nanti kita punya waktu menulis tentang mereka secara panjang lebar, sebagai bagian dari mengingat mereka. (Sumber:  taufik.mubarak )

Rabu, 13 Januari 2016

Inilah Ekspedisi Kerajaan Turki Utsmaniyah ke Aceh (1565 )


Ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh dimulai sekitar tahun 1565 ketika Kesultanan Utsmaniyah berusaha mendukung Kesultanan Aceh dalampertempurannya melawan Portugis di Malaka. Ekspedisi dilancarkan setelah dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539 -1571) kepada Suleiman Agung pada tahun 1564, dan kemungkinan seawal tahun 1562, meminta dukungan Turki terhadap Portugis.

Persekutuan Aceh - Turki Utsmani secara tak resmi sudah ada sejak tahun 1530-an. Sultan Alauddin al-Qahhar berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut, untuk mencoba mengusir Portugis dari Malaka, dan memperluas kekuasaannya di Sumatera. Menurut Fernão Mendes Pinto, Sultan Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200 saudagar Malabar untuk menaklukkan Tano Batak pada tahun 1539.

Setelah tahun 1562, Aceh nampaknya sudah menerima bala bantuan Turki yang memungkinkannya menaklukkan Kerajaan Aru dan Johor pada tahun 1564.
Pengiriman duta ke Istanbul pada tahun 1564 dilakukan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah. Dalam suratnya kepada Porte Usmaniyah, Sultan Aceh menyebut penguasa Utsmaniyah sebagai Khalifah (penguasa) Islam.

Setelah mangkatnya Suleiman pada tahun 1566, anandanya Selim II memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang melimpah. Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri, namun dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman. Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba antara tahun 1566–1567, namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul. Ekspedisi itu dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis. Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiara, berlian, dan rubi. Pada tahun 1568, Aceh menyerang Malaka, meskipun Turki tak nampak ikut serta secara langsung.

Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi. Dari awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus. Armada Turki Usmani di Samudera Hindia pada abad ke-16.

Ekspedisi tersebut menyebabkan berkembangnya pertukaran antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani dalam bidang militer, perdagangan, budaya, dan keagamaan. Penguasa Aceh berikutnya meneruskan pertukaran dengan Khilafah Turki Utsmani, dan kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah.

Hubungan antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani menjadi ancaman besar bagi Portugis dan mencegah mereka mendirikan kedudukan dagang monopolistik di Samudera Hindia. Aceh merupakan saingan dagang utama Portugis, kemungkinan mengendalikan perdagangan rempah-rempah lebih banyak daripada Portugis, dan Portugis mencoba menghancurkan sumbu perdagangan Aceh-Turki-Venesia untuk keuntungan sendiri. Portugis berencana menyerang Laut Merah dan Aceh, namun gagal karena kurangnya tenaga manusia di Lautan Hindia.

Ketika diserang oleh Belanda pada tahun 1873, Aceh meminta perlindungan dengan persetujuannya yang sudah lebih dulu tercapai dengan Kesultanan Usmaniyah sebagai salah satu dependensinya, namun klaim itu ditolak oleh kuasa Barat yang takut bila kejadian masa lalu terulang. Armada yang dipersiapkan untuk membantu Aceh sendiri pada akhirnya dialihkan untuk menumpas pemberontakan Zaidiyah di wilayah Yaman. (wikipedia)

Sabtu, 02 Januari 2016

Pengadaan Barang Untuk DPRA Habiskan Rp10 Miliar Lebih

ACEHTERKINI.COM | Pengadaan barang untuk keperluan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh tahun 2015 menghabiskan anggaran APBA sebesar Rp10.506.784.000,- untuk 13 item pengadaan.

Dirangkum dari lpse.acehprov.go.id, Sabtu (02/01/2016), 13 item tersebut 9(sembilan) item di antaranya untuk keperluan perumahan komplek DPRA di Gampong Meunasah papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Belanja pengadaan barang untuk rumah dinas DPRA periode 2014-2019 itu meliputi,pengadaan TVSpring Bed 6 kakiSpring Bed 4 kakikursi tamumeja makanmesin cucikulkaslemari pakaian 2 pintu dan AC dengan nilai pagunya sekitar Rp5 miliar lebih.

Kemudian setiap anggota DPR Aceh juga mendapat bantuan laptop dari uang APBA tahun 2015 dengan nilai pagu anggarannya Rp1,466 miliar yang pengadaannya dimenangkan oleh Citra Distribusi Teknologi beralamat di Jalan Pocut Baren No.43 Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Selain itu, Ketua DPRA dan Wakil Ketua DPRA Periode 2014-2019 ini juga mendapat bantuan mobil dinas yang dianggarkan dalam APBA 2015. Untuk Ketua DPRA, pagu anggarannya Rp1,5 miliar yang dimenangkan oleh CV. Inovasi Jaya yang beralamat di Jl. T. Hasan Dek Komp Ruko T. Raja Sabi No.08 Gp. Beurawe Kec. Kuta Alam.

Sedangkan pengadaan mobil dinas untuk tiga orang wakil Ketua DPRA dimenangkan oleh CV. Aka Jaya Abadi yang beralamat sama dengan CV. Inovasi Jaya. Pagu untuk anggaran mobil waki Ketua DPRA ini mencapai Rp2,4 miliar.

Tahun 2015, DPR Aceh juga melakukan pengadaan untuk keperluan kantor berupa proyektor di gedung utama DPRA dengan nilai pagu Rp582 juta oleh CV. Sentra Global Integrasi di Jl. T. Bintara Pineung No. 15, Kel. Kota Baru Kec. Kuta Alam. [Red]

Catatan LBH: 127 Kasus Pelanggaran HAM Terjadi di Aceh

Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh meningkat dari 2014 sebanyak 56 kasus bertambah menjadi 127 kasus di tahun 2015. Ini merupakan catatan akhir tahun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh.

“Banyaknya kasus-kasus yang terjadi ini menunjukkan pengakuan negara terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) masih bersifat parsial semata,” ujar Mustiqal Syahputra, Direktur LBH Banda Aceh, Jum’at (01/01/2016).

Ia menjelaskan kasus yang paling banyak terjadi adalah kasus-kasus khusus seperti perdata, pidana dan pidana khusus yang berjumlah 68 kasus. Kemudian kasus pelanggaran hak ekonomi sosial budaya sebanyak 18 kasus yang dominan adalah kasus pelanggaran hak atas tanah.

Masih dikatakan Mustiqal, kasus pelanggaran hak sipil politik terjadi sebanyak 17 kasus yang paling banyak dilakukan oleh oknum kepolisian, anggota dewan, hakim, PNS dan petugas Lapas.

Kemudian masih ada 17 kasus perempuan dan anak serta 7 kasus keluarga. “Data pelanggaran HAM ini berhasil dirangkum dari tiga kantor LBH di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Meulaboh,” kata Mustiqal.

Dari jumlah keseluruhan kasus yang masuk itu, 52 kasus ditangani melalui mekanisme litigasi dan 75 kasus jalur non litigasi. [Red]

Riwayat Perjuangan Din Minimi dalam GAM

NAMA Din Minimi atau Abu Minimi menjadi sorotan berbagai pihak dalam beberapa bulan  terakhir. Itu terjadi setelah ia muncul di koran dengan memamerkan senjata api laras panjang, hal yang terlarang dalam undang-undang. 
Polisi sudah sejak setahun lalu memburunya lantaran ia dan kelompoknya terlibat sejumlah aksi kriminal seperti perampokan, pemerasan, dan penculikan. Maka bertumpuklah kesalahan Din Minimi di mata aparat penegak hukum. Itu sebabnya, bagi polisi, Din Minimi adalah burunon yang harus ditangkap. 
Kepala Humas Polda Aceh, Kombes Gustav Leo, mengonfirmasi Polda Aceh telah membentuk tim khusus dan sedang bergerak ke lapangan mengejar Din Minimi dan kelompoknya. 
Saat ini, katanya, tim yang dibentuk Polda Aceh mengepung dan mencari keberadaan kelompok Abu Minimi sudah bekerja di lapangan.
“Pelanggaran yang dilakukan oleh Din Minimi harus dipertanggungjawabkan secara hukum,” katanya.
Di lain sisi, Din Minimi adalah pribadi yang kompleks. Hidupnya berkalang derita. Keluarganya sudah terlibat di GAM sejak awal gerakan itu didirikan pada 1976. 
Sumber Atjeh Pusaka menuturkan, nama Minimi yang melekat di belakang namanya adalah warisan dari sang ayah yang dikenal dengan nama Ayah Minimi. 
“Di rumah Ayah Minimi di Geudong Pase diadakan rapat pertama perjuangan GAM (di wilayah Pase) pada masa silam,” kata sumber Atjeh Pusaka yang menolak namanya ditulis. 
Konon, Ayah Minimi pernah ditembak dengan senjata minimi, namun tidak tembus lantaran memiliki ilmu kebal. Itulah sebabnya, rekan-rekannya memanggilnya Ayah Minimi.
Namun petulangan Ayah Minimi berakhir setelah terjaring sweeping aparat keamanan di kawasan Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktya, Aceh Utara, pada masa konflik bersenjata.
Sumber itu menyebutkan, sejak saat itu Ayah Minimi hilang. Sumber lain menyebutkan, setelah terjaring razia, Ayah Minimi digilas dengan kenderaan hingga tewas.
Menurut sumber itu, Nurdin alias Abu Minimi lahir di Julok, Aceh Timur. Dia memang mantan kombatan. Terakhir pada masa awal damai Aceh, Abu Minimi pernah pulang ke Geudong Pase, rumah orang tuanya.
Selain ayahnya, Din Minimi juga kehilangan dua adiknya. Seorang adiknya tewas dalam pertempuran antara GAM dan TNI pada 2004. Sedangkan adiknya satu lagi hilang masa konflik. Hingga kini, ia tak tahu adiknya masih hidup atau mati. 
Dari seorang sumber lain di organisasi tempat berhimpunnya mantan kombatan GAM, Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Timur, diperoleh konfirmasi Din Minimi resmi masuk GAM sejak 1997. Ia mengikuti jejak ayahnya di masa lalu.
"Beutoi, gobnyan pernah jeuet keu anggota KPA. Tapi kemudian memisahkan droe karena kleuet bacut(Benar, dia pernah jadi anggota KPA, tapi kemudian memisahkan diri karena agar liar," kata sumber yang lagi-lagi menolak namanya ditulis. 
Di mata sumber ini, Din adalah pribadi yang pendiam, tapi bertempramen tinggi. Keterangan sumber itu juga dibenarkan oleh seorang pengurus KPA pusat. 
Penelusuran Atjeh Pusaka dari sumber lain menyebutkan Din Minimi berselisih paham dengan pengurus KPA lain saat Pilkada 2012. Saat itu, KPA mengusung pasangan pimpinan GAM Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Sementara Din Minimi merapat ke Muhammad Nazar, mantan Wagub Aceh yang maju ke gelanggang pemilihan gubernur pada 2012. 
Sejak itu, Din memilih jalannya sendiri. Lama menghilang, namanya kemudian dikaitkan dengan sejumlah tindak kriminal di Aceh Timur. 
Hingga kemudian ia membuat heboh dengan muncul di koran dan melontarkan kritik pedas terhadap Pemerintah Aceh yang sebenarnya adalah pemimpinnya di masa perang melawan Pemerintah Pusat yang dinilai telah berlaku tidak adil terhadap Aceh. 
Dengan rekam jejak keluarganya di masa lalu, kehilangan ayah dan dua adiknya dalam membela GAM, mungkinkah tindakan Din mengobarkan pemberontakan dipicu rasa kecewa yang teramat dalam terhadap mantan pemimpinnya? 
"Kami siap melawan pemimpin Aceh dengan cara apapun, karena mereka sudah tidak lagi amanah. Banyak mantan kombatan GAM, janda, dan anak yatim akibat konflik saat ini hidup memprihatinkan," kata Din ketika bertemu sejumlah wartawan di lokasi persembunyiannya. 
Menariknya, Din mengaku siap kembali jika pemerintah memenuhi permintaannya. Ia pun siap menyerahkan senjata. 
“Kamoe akan melawan pemerintah sampoe darah kamoe abeh. Tapi bila pemerintah geupeunuhi yang kamoe lakee, kamoe pih siap kembali, dan senjata kamoe jok keu yang berhak atawa polisi,” (Kami akan melawan pemerintah sampai darah kami habis. Namun bila tuntutan kami dikabulkan, kami kembali ke masyarakat dan senjata kami serahkan ke aparat polisi),” ujar Nurdin.
Pernyataan itu tampaknya memberi harapan bagi Pemerintah Aceh untuk kembali merangkul Din Minimi. Tapi di sisi lain, polisi tentu tak bisa kompromi dengan aksi kriminal yang diakui Din dilakukan bersama kelompoknya. 
Anggota DPR Aceh dari Partai Aceh, Abdullah Saleh, melihat aksi Din Minimi berada di ranah kriminal dan himpitan ekonomi. 
Itu sebabnya, Abdullah Saleh meminta Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan semua pihak termasuk aparat penegak hukum. "Jika bisa diberi pengertian, pemahaman dan pendekatan, coba dilakukan. Tapi dilihat arahnya kemana. Kalau lebih ke kriminal, ya yang bisa dilakukan adalah pendekatan secara hukum," katanya. 
Selain itu, Abdullah Saleh juga melihat ada motif ekonomi dibalik aksi Din Minimi. "Jika berbicara kesejahteraan atau hidup layak, bukan hanya eks kombatan, tapi seluruh rakyat mengalaminya," katanya. 
Sementara itu, muncul pula suara-suara yang meminta agar Pemerintah Aceh melakukan introspeksi. 
"Harus disadari bahwa munculnya Din Minimi dan kelompok bersejata lain tidak terlepas dari kondisi perekonomian Aceh yang semakin sulit," kata T. Syaifuddin, SH, Sekretaris LSM ADAS Institute Aceh.
Itu sebabnya, kata Popon (panggilan akrab sang pengacara), Pemerintah Aceh harus menyikapinya dengan bijaksana. Menurutnya,  munculnya kelompok bersenjata di tengah situasi Aceh yang sedang damai tidak terlepas dari pola distribusi sumberdaya terbatas pada sekelompok orang, terutama mereka yang berasal dari lingkaran keluarga pucuk pimpinan di Pemerintah Aceh.
"Azas kekeluargaan sangat tinggi. Hanya keluarga dan kolega tertentu yang menikmati kesejahteraan dari pemerintah saat ini” kata Popon.
Itu sebabnya, Popon berharap Pemerintah Aceh segera berbenah sebelum muncul kelompok lain yang mengekspresikan rasa tidak puas dengan caranya sendiri.
“Gerakan Abu Minimi ini tidak boleh dihadapi dengan senjata atau kekerasan, karena masyarakat Aceh sudah jenuh dan bosan dengan konflik. Karena itu, buka ruang komunikasi kepada kelompok Din Minimi sehingga menemukan kesepakatan bersama, mereka juga masyarakat Aceh,” harap T. Syaifuddin, SH yang juga seorang Pengacara di LBH Gajah Puteh.
Harapan serupa juga datang mantan Wagub Aceh, Muhammad Nazar. Nazar menyarankan Pemerintah Aceh membuka ruang diskusi yang baik dengan kelompok Abu Minimi agar keinginan mereka tercapai. “Pemerintah bisa memanfaatkan sejumlah LSM yang memang dekat dengan Abu Minimi sebagai jembatan komunikasi dengan kelompok tersebut,” ujarnya.
Menurutnya dengan adanya komunikasi yang baik, akar persoalan munculnya kelompok tersebut didapati dan ditindaklanjuti dengan kedewasaan. Sehingga, katanya, tidak ada perpecahan di kalangan masyarakat Aceh. 
Sementara itu, seperti kata Humas Polda Aceh Gustav Leo, di lapangan, polisi sedang bergerak memburunya.

Kronologi Penyerahan Diri Din Minimi
Aceh Utara - Pentolan kelompok bersenjata Nurdin Ismail alias Din Minimi akhirnya menyerah dan menyudahi perlawanannya kepada pemerintah Indonesia.
Din Minimi menyerah setelah Kepala Badan Itelijen Negara (BIN) melakukan negosiasi yang panjang dengan gerakan separitisme tersebut.
Berdasarkan informasi, tim gabungan yang dimpimpin oleh Kepala BIN Sutiyoso bergerak melakukan penjemputan ke Din Minimi dan bersama kelompoknya pada, Senin 28 Desember 2015 kemarin.
Dalam kesempatan itu, Sutiyoso didampingi olehDeputi II BIN Mayjen TNI Thamrin, Direktur 23, Brigjen TNI Zulfazdi Juni, dan perwakilan dari Aceh Monitoring Mission (AMM) Christensen.
Rincian rangkaian kegiatan penjemputan tim sipil bersenjata Din Minimi adalah sebagai berikut:
1. Selasa, 28 Desember 2015, tim yang dipimpin oleh Kepala BIN Sutiyoso, bertolak di Desa. Keude Mesjid Bagok Kecamatan Nurussalam Kabupaten Atim, dengan menggunakan beberapa unit mobil diantaranya jenis Pajero Sport warna putih, Double Cabin Hilux warna hitam, Toyota  Fortuner warna hitam bertemu dengan Din Minimi dan juga kelompoknya.
2. Kemudian, tim beserta kelompok Din Minimi sekira 20 orang d
ibawa menggunakan dua unit kendaraan untuk bergerak dari lokasi penjemputan melalui jalan Medan, Aceh menuju ke arah Kecamatan Julok Kabupaten Atim.
3. Setelah tiba di Kecamatan Julok, dua unit mobil yang ditumpangi oleh Deputi 2 Bin dan Direktur 23 beristirahat diii Koramil Julok, sedangkan mobil yang membawa Sutiyoso dan Din Minimi beserta seluruh anggotanya langsung menuju ke rumah orang tua Din Minimi di Desa Ladang Baroe Kecamatan Julok Kabupaten Atim.
4. Kemudian, rombongan yang dipimpimpin oleh Sutiyoso beserta kelompok Din Minimi melaksanakan kegiatan doa bersama dan syukuran bertempat di rumah orang tua Din Minimi di Desa Ladang Baroe, Kecamatan Julok, Kabupaten Atim yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat dan dihadiri masyarakat dari Desa Ladang Baroe dan Desa Bukit Panjang yang berjumlah sekira 120 orang.
5. Atas pertemuan itu akhirnya Kepala BIN Sutiyoso dan kelompok Din Minimi memutuskan untuk menginap dan bermalam di rumah orang tua Dini Minimi, selanjutnya direncanakan besok pagi tanggal, Selasa 29 Desember 2015 rombongan yang dipimpin oleh Sutiyoso bersama dengan Din Minimi akan berangkat menuju ke Kota Lhokseumawe.
6. Dalam negosiasi tersebut, berdasarkan informasi tidak ada personil TNI ataupun Polri maupun wartawan yang memasuki lokasi rumah orang tua Din Minimi utk melakukan pemantauan ataupun peliputan giat tersebut.
7. Saat bergerak melintas di jalan dari lokasi penjemputan menuju ke Desa Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Atim, anggota kelompok Din Minimi sempat mengibarkan Bendera Bintang Bulan dan mengeluarkan kata kalimat merdeka. (ADR)